SAKIT seperti apa yang boleh tidak puasa? Ustaz Farid Nu’man Hasan menjelaskan bahwa ada dua pendapat:
1. Semua Jenis Sakit Baik Berat dan Ringan
Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahimahullah:
وَحُكِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَبَاحَ الْفِطْرَ بِكُلِّ مَرَضٍ ، حَتَّى مِنْ وَجَعِ الْإِصْبَعِ وَالضِّرْسِ ؛ لِعُمُومِ الْآيَةِ فِيهِ
Diceritakan dari sebagian salaf bahwa dibolehkan berbuka bagi setiap jenis penyakit, sampai rasa sakit di jari-jari dan tergigit, lantaran keumuman ayat tentang hal ini. (Al Mughni, jilid. 6, hal. 149).
Ini juga pendapat Imam Ibnu Sirin, Imam Bukhari, Imam Atha, dan ahluzh zhahir seperti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm Al Andalusi.
2. Hanya Sakit Berat yaitu Sakit yang Membuatnya Sulit Berpuasa, atau Lama Sembuhnya, atau Membuatnya Semakin Menderita Saat Puasa
Ini pendapat mayoritas ulama. Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:
والصحيح الذي يخاف المرض بالصيام، يفطر، مثل المريض وكذلك من غلبه الجوع أو العطش، فخاف الهلاك، لزمه الفطر وإن كان صحيحا مقيما وعليه القضاء.
“Yang benar adalah jika puasa dikhawatirkan membuat sakit maka dia boleh berbuka, misalnya sedang sakit, begitu juga bagi orang yang tidak kuat menahan lapar dan haus yang dikhawatiri membuatnya celaka, maka dia mesti berbuka. Jika dia dalam keadaan sehat dan mukim maka wajib baginya qadha’.“ (Fiqhus Sunnah, 1/442).
Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan:
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jenis Sakit yang Diperbolehkan untuk Tidak Berpuasa
Baca juga: Bacaan untuk Orang yang Sedang Sakit Berdasarkan Hadits Nabi
هوالذي يشق معه الصوم مشقة شديدة أو يخاف الهلاك منه إن صام، أو يخاف بالصوم زيادة المرض أو بطء البرء أي تأخره . فإن لم يتضرر الصائم بالصوم كمن به جرب أو وجع ضرس أو إصبع أو دمل ونحوه، لم يبح له الفطر.
“Yaitu sakit berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti sakit kudis, sakit gigi, jari, bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka.” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah).
Orang Sakit Keras Memaksa Diri Untuk Puasa
Jika orang yang sakit keras memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya tetap sah, walau hal itu dibenci (makruh), lantaran dia telah dianggap menyiksa diri sendiri dan menolak keringanan yang Allah dan Rasul-Nya berikan.
Allah Ta’ala berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185).
وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَة
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. Al Baqarah (2): 195) .
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
وإذا صام المريض، وتحمل المشقة، صح صومه، إلا أنه يكره له ذلك لاعراضه عن الرخصة التي يحبها الله، وقد يلحقه بذلك ضرر.
“Jika orang sakit berpuasa dan hal itu membawanya pada keadaan yang menyulitkan, maka puasanya sah, tetapi hal itu makruh karena dia menentang rukhshah (dispensasi) yang Allah Ta’ala sukai, dan dengan itu mendatangkan hal yang buruk baginya.” (Fiqhus Sunnah, 1/442).[Sdz]