• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Rabu, 25 Maret, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Jangan Marah Apabila Gagal Mendapat Surga

21/08/2025
in Khazanah
Dewasa Kita Palsu

(foto: pixabay)

105
SHARES
808
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

JANGAN marah, apabila engkau gagal mendapatkan surga. Bisa jadi, perjalananmu untuk mendapatkannya, telah banyak melukai hati manusia. (Wasi’)

Kalimat tersebut saya temukan di timeline seorang teman, tadi pagi. Kalimat tersebut benar-benar menampar saya.

Bagaimana tidak, urusan melukai hati adalah perkara yang sangat bias standarnya. Maksud hati biasa saja, tapi ditangkap teman kita menyakitkan hati, dan sebaliknya.

Tapi jujur, saya sering tidak habis pikir, melihat orang dengan mudahnya menyakiti hati orang lain, misal, sesederhana dengan kalimat seperti ini,

”Lo happy nggak sih kemaren dapet nilai segitu? Bukannya pas di awal lo pasang target dapet A terus ya. Lo kok bisa jalan-jalan sih? Pura-pura bahagia ya? Keliatan kaya menutupi sesuatu. Lo kan biasanya suka menutupi sesuatu.”

Halo? Mau dilihat dari sudut pandang manapun, sungguh itu bukan kalimat yang baik diutarakan.

Anyway, itu kalimat fiktif sih. Walaupun pada kenyataannya, itu hanya perumpamaan (yang mirip dan saya modifikasi) dengan menggunakan studi kasus saya; membayangkan apabila saya ingin banget dapat nilai A di masa lalu.

Lalu saya gagal mendapat nilai A, lalu teman saya tega mengungkapkan kalimat tersebut pada saya, saat saya sedang travelling. Yang kamu lakukan ke saya itu… jahat.

Untung saya enggak pernah digituin dalam kasus gagal-dapat-nilai-A. Kalau ada, sudah saya semprot habis-habisan,

”Maksud lo apa ngatain gue pura-pura bahagia?” Ya iya, bener sih, tapi harusnya lo bantu gue move on dong. Gue kan lagi mensyukuri hidup gue yang sekarang. Jangan bikin gue lupa bersyukur.

Iya, pada intinya, saya heran (pake banget) menemui ada orang seperti itu di dunia ini.

Iya, dalam kasus di atas, secara umum, saya rasa setiap orang seharusnya membantu saudaranya untuk mudah bersyukur; ketimbang mengingatkan pada hal-hal yang (mungkin) belum bisa ia miliki, dan membuatnya semakin jauh dari rasa syukur.

Heran.

Baca Juga: Jangan Marah Kecuali Karena Allah

Jangan Marah Apabila Gagal Mendapat Surga

Saya jadi ingat kata-kata teman saya.

“Memang. “Pintar” dan “bodoh” itu cuma ilusi. Sebab pun Bu Warteg tak mengerti mekanika kuantum, Professor di Oxford belum tentu bisa bikin sambel terasi.”

Sebenarnya enggak nyambung, tapi kalimat itu membuat saya menyimpulkan satu hal. “Nilai baik atau buruk” manusia itu, terlalu sederhana jika disimpulkan dan dikuantifikasi dengan sistem buatan manusia.

Saya jadi semakin percaya, gelar, titel, level, dan penghargaan dari manusia tidak pernah menentukan kualitas akhlak seorang manusia, dan tidak akan pernah menentukan derajat kedudukannya di mata Allah.

Siapa bilang, orang-orang yang mendapatkan kesempatan belajar tinggi dan berkarier yang cemerlang, memiliki kedudukan lebih mulia dari bapak-ibu pemulung yang tinggal di rumah gerobak.

Siapa bilang, orang-orang yang sudah menunaikan belajar Islam level maqom Ibrahim di sebuah institusi, lebih mulia dari seorang mualaf yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah.

Tidak ada yang bisa menjamin.

Maka pelajaran buatmu hari ini adalah, belajarlah hati-hati berbicara; karena kata yang terucap tak pernah bisa ditarik kembali.

Karena melukai hati orang lain, bisa menjadi pengganjal untuk masuk surga. Karena melukai hati seseorang itu seperti meremas kertas putih kosong; ia mungkin tidak sobek, tetap utuh, namun ia tidak akan semulus seperti sebelum diremas; bekasnya masih ada, dan tidak akan pernah hilang.

Mungkin karena itu ada pepatah, ”Be careful with your words. Once they are said, they can be only forgiven, not forgotten.”[ind]

sumber: Unforgettable Things. Avina, 2 September 2016. Catatan para Takmir Muda dan para Pengajar
di musim Ujian Tengah Semester.

Tags: Jangan Marah Apabila Gagal Mendapat Surgamenyakiti hati orang
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Mayoritas Warga Amerika Percaya AS Harus Bertindak untuk Membantu Warga Palestina yang Kelaparan di Gaza

Next Post

Iko Uwais Pimpin Pertunjukan Pencak Silat di Istana Merdeka

Next Post
Iko Uwais Pimpin Pertunjukan Pencak Silat di Istana Merdeka

Iko Uwais Pimpin Pertunjukan Pencak Silat di Istana Merdeka

Berdamai dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan Diri Sendiri

Momen Ikonik Selebrasi Formasi Penutupan PIONIR Gadjah Mada 2025

Momen Ikonik Selebrasi Formasi Penutupan PIONIR Gadjah Mada 2025

  • Perang Pemikiran, Louis IX, dan Alasan Kenapa Umat Hari Ini Diam Atas Palestina

    Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    1979 shares
    Share 792 Tweet 495
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3596 shares
    Share 1438 Tweet 899
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8099 shares
    Share 3240 Tweet 2025
  • Mandi Junub Menggunakan Shower

    5050 shares
    Share 2020 Tweet 1263
  • Orang yang Wafat Mengetahui Kondisi Keluarga yang Masih Hidup (Bag. 2)

    175 shares
    Share 70 Tweet 44
  • Yang Berhak Memandikan Jenazah Ibu

    2972 shares
    Share 1189 Tweet 743
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    664 shares
    Share 266 Tweet 166
  • Untuk Pemula, Belajar Islam Mulai dari Mana?

    3134 shares
    Share 1254 Tweet 784
  • Bakti Wanita kepada Orangtua Setelah Menikah

    578 shares
    Share 231 Tweet 145
  • Tips Membedakan Kerupuk Kulit Babi dan Kulit Sapi

    793 shares
    Share 317 Tweet 198
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga