REZIM zalim di dunia ini pasti akan jatuh. Ada dua pola kejatuhan mereka yang selalu berulang.
Rezim zalim selalu ada dari masa ke masa. Mulai dari masa Nabi Nuh alaihissalam, hingga akhir zaman saat ini.
Pola Kejatuhan masa Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Hampir semua Nabi dan Rasul selalu berhadapan dengan rezim yang zalim. Allah subhanahu wata’ala menjadikan para rezim zalim ini sebagai ujian misi dakwah para Nabi, dari masa ke masa.
Menariknya, kejatuhan para rezim zalim di masa sebelum Rasulullah dihancurkan melalui fenomena alam. Artinya, Allah subhanahu wata’ala menjadikan faktor alam untuk menghancurkan mereka dan memenangkan misi dakwah para Nabi.
Misalnya, di masa Nabi Nuh alaihissalam, rezim zalim saat itu Allah hancurkan melalui banjir besar. Nyaris tak ada yang tersisa kecuali yang Allah selamatkan melalui bahtera Nabi Nuh.
Kemudian di masa Nabi Ibrahim alaihissalam. Masa itu, rajanya bernama Namrud. Ia adalah raja dari negeri Babilonia yang super power. Nyaris, tak ada kekuatan manusia saat itu yang mampu mengalahkannya.
Menariknya, Namrud dikalahkan oleh seekor lalat yang masuk ke lubang hidungnya. Lalat it uterus berdengung kedalam otak raja zalim itu hingga bertahun-tahun. Ia pun akhirnya tewas.
Di masa Nabi Musa alaihissalam juga seperti itu. Raja zalim itu bernama Firaun. Ia tumbang oleh laut yang terbelah saat sedang mengejar Nabi Musa dan kaumnya yang sedang menyeberangi laut Merah.
Raja-raja zalim yang menghalangi dakwah Nabi Luth, Nabi Soleh, dan lainnya sebelum masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengalami hal yang hampir sama. Mereka dikalahkan oleh kekuatan alam melalui kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.
Masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Raja-raja atau penguasa zalim masih terus ada hingga datangnya Rasulullah, sebagai Nabi akhir zaman. Penutup dari semua Nabi.
Namun, ada perbedaan dalam kekalahan dan kehancuran mereka. Kalau para penguasa zalim sebelum Rasulullah tumbang melalui kekuatan alam, di masa Rasulullah dan sesudahnya tumbang melalui jihad.
Inilah konsep dakwah yang agak berbeda dengan masa sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu, kekuatan senjata dan perlawanan fisik.
Tidak heran jika Al-Qur’an memasukkan jihad sebagai bagian dari tiga pilar, yaitu Iman, Hijrah, Jihad. Kezaliman di masa Rasulullah, para sahabat, tabi’in, dan seterusnya; harus ditumbangkan melalui upaya perlawanan fisik dan senjata melalui jihad.
Dari konsep yang agak berbeda inilah, sebagian ulama menyebut bahwa mati syahid dalam jihad fi sabilillah adalah cita-cita tertinggi umat Islam.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya, kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya…” (QS. Al-Anfal: 60)
Paradigma Perlawanan
Meski begitu, Islam tidak mengajarkan serba kekerasan di semua misi dakwah. Perlawanan dalam jihad merupakan pilihan terakhir atau dalam rangka membela diri dari serangan musuh.
Hal ini menjadikan umat Islam tidak ekstrim kekerasan yang serba keras dan kasar. Islam tetap harus sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Di sisi lain, umat Islam juga tidak boleh ‘lembek’: mempasrahkan pipi kanan ketika pipi kiri ditampar musuh. Terlebih lagi ‘lembek’ karena penakut. [Mh]





