PERLU diketahui dalam Mazhab Maliki, kotoran dan kencingnya anjing juga najis alias tidak suci, yang tidak najis bagi mereka adalah seluruh tubuhnya baik kulit, bulu, kuku, dan liur.
Tapi untuk kencing dan kotoran tetap najis.
Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:
ุฃู ุง ูุถูุงุช ุงูููุจ ูุจูููุ ูุฑุฌูุนู ู ุซูุงุ ูุฅููุง ูุฌุณุฉ ุนูุฏ ุงูู ุงูููุฉุ ูุฃู ุงูููุจ ุบูุฑ ุงููุญุดู ู ู ุงูุญููุงูุงุช ุงูุชู ูุง ูุดุฑุน ุฃูููุงุ ููุถูุงุชูุง ูุฌุณุฉ
Adapun kotoran anjing, seperti air kencing dan tinjanya, maka menurut Mazhab Maliki, keduanya dianggap najis. Hal ini karena anjing yang bukan jenis liar termasuk hewan yang tidak dibolehkan untuk dimakan, sehingga kotorannya dihukumi najis. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 443311).
Ada pun dalam mazhab Syafi’i adalah kebalikan mazhab Maliki, bahwa bagi mazhab Syafi’i anjing semua bagiannya adalah najis.
Itulah yg diyakini umumnya umat Islam di Indonesia yang bermazhab Syafi’i.
Imam Ibnu Taimiyahย ย Rahimahullahmenjelaskanย rincian masalah ini:
ุฃูู ููุงย ุงููููููุจูย ููููููุนูููู ูุงุกูย ูููููย ุซูููุงุซูุฉูย ุฃูููููุงููย ู ูุนูุฑููููุฉูย :ย ุฃูุญูุฏูููุงย :ย ุฃููููููย ููุฌูุณูย ูููููููย ุญูุชูููย ุดูุนูุฑูููููููููููย ุงูุดููุงููุนููููย ููุฃูุญูู ูุฏย ูููย ุฅุญูุฏููย ุงูุฑููููุงููุชูููููย ุนูููููย .ย ููุงูุซููุงูููย :ย ุฃููููููย ุทูุงููุฑูย ุญูุชูููย ุฑููููููููููููููย ู ูุงููููย ูููย ุงููู ูุดููููุฑูย ุนูููููย .ย ููุงูุซููุงููุซูย :ย ุฃููููย ุฑููููููย ููุฌูุณูย ููุฃููููย ุดูุนูุฑูููย ุทูุงููุฑูย ููููุฐูุงู ูุฐูููุจูย ุฃูุจููย ุญููููููุฉูย ุงููู ูุดููููุฑูย ุนูููููย ููููุฐูููย ููููย ุงูุฑููููุงููุฉูย ุงููู ูููุตููุฑูุฉูย ุนูููุฏูย ุฃูููุซูุฑูุฃูุตูุญูุงุจูููย ููููููย ุงูุฑููููุงููุฉูย ุงููุฃูุฎูุฑููย ุนูููย ุฃูุญูู ูุฏย ููููุฐูุงย ุฃูุฑูุฌูุญูย ุงููุฃูููููุงููย .
โAdapun anjing, para ulama kita terbagi atas tiga pendapat:
Pertama. Bahwa anjing najis seluruhnya termasuk bulunya, inilah pendapat Asy Syafiโi dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklikย tautanย ini.
Kedua. Bahwa anjing adalah suci termasuk liurnya inilah pendapat yang masyhur (terkenal) dari Malik.
Ketiga. Bahwa liurnya adalah najis, dan bulunya adalah suci, inilah madzhab yang masyhur dari Abu Hanifah, dan inilah riwayat yang didukung oleh mayoritas pengikutnya, dan inilah riwayat lain dari Ahmad. Inilah pendapat yang lebih kuat.โ (Majmuโ Al Fatawa, 21/616).
Lalu, bagaimana sikap yang terbaik bagi orang yang meyakini mazhab Maliki saat berkunjung atau bermukim ke negeri yang bermazhab Syafi’i sekian lama?
Maka, tidak mengapa baginya mengikuti pandangan yg umumnya diyakini ditempat yg dia kunjungi, perhatikan kondisi fiqih yang dianut masyarakat dan ulama di situ, untuk menghindari munculnya fitnah dan gesekan sosial dengan penduduk setempat.
Demikianlah perilaku dan adab yang dicontohkan kaum salaf dan disarankan para ulama.
Di antaranya nasihat Imam Al Qarafi Rahimahullah sebagai berikut:
ูู ูู ุง ุชุฌุฏุฏ ูู ุงูุนุฑู ุงุนุชุจุฑู ูู ูู ุง ุณูุท ุฃุณูุทู ููุง ุชุฌู ุฏ ุนูู ุงูู ุณุทูุฑ ูู ุงููุชุจ ุทูู ุนู ุฑู ุจู ุฅุฐุง ุฌุงุกู ุฑุฌู ู ู ุบูุฑ ุฃูู ุฅูููู ู ูุณุชูุชูู ูุง ุชุฌุฑู ุนูู ุนุฑู ุจูุฏู ูุงุณุฃูู ุนู ุนุฑู ุจูุฏู ูุฃุฌุฑู ุนููู ูุฃูุชู ุจู ุฏูู ุนุฑู ุจูุฏู ูุฏูู ุงูู ูุฑุฑ ูู ูุชุจู ููุฐุง ูู ุงูุญู ุงููุงุถุญ ูุงูุฌู ูุฏ ุนูู ุงูู ููููุงุช ุฃุจุฏุง ุถูุงู ูู ุงูุฏูู ูุฌูู ุจู ูุงุตุฏ ุนูู ุงุก ุงูู ุณูู ูู ูุงูุณูู ุงูู ุงุถูู
Bagaimanapun yang baru dari sebuah tradisi perhatikanlah, dan yang sudah tidak berlaku lagi tinggalkanlah.
Jangan kamu bersikap tekstual kaku pada tulisan di kitab saja sepanjang hayatmu.
Bolehkah Mengikuti Mazhab Maliki Saat Tinggal di Indonesia yang Bermazhab Syafi’i
Baca juga:ย Ini Penjelasan tentang Mazhab bagi Orang Awam yang Perlu Sahabat Muslim Ketahui
Jika datang kepadamu seorang dari luar daerahmu untuk meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu memberikan hukum kepadanya berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku di daerahmu, tanyailah dia tentang adat kebiasaan yang terjadi di daerahnya dan hargailah itu serta berfatwalah menurut itu, bukan berdasarkan adat kebiasaan di daerahmu dan yang tertulis dalam kitabmu.
Itulah sikap yang benar dan jelas. Sedangkan sikap selalu statis pada teks adalah suatu kesesatan dalam agama dan kebodohan terhadap tujuan para ulama Islam dan generasi salaf pendahulu. (Al Furuq, 1/176-177).
Imam Ad Darimi Rahimahullah berkata:
ุฃุฎุจุฑูุง ูุฒูุฏ ุจู ูุงุฑูู ุนู ุญู ุงุฏ ุจู ุณูู ุฉ ุนู ุญู ูุฏ ูุงู ููุช ูุนู ุฑ ุจู ุนุจุฏ ุงูุนุฒูุฒ ูู ุฌู ุนุช ุงููุงุณ ุนูู ุดูุก ููุงู ู ุง ูุณุฑูู ุงููู ูู ูุฎุชูููุง ูุงู ุซู ูุชุจ ุฅูู ุงูุขูุงู ุฃู ุฅูู ุงูุฃู ุตุงุฑ ูููุถู ูู ููู ุจู ุง ุงุฌุชู ุน ุนููู ูููุงุคูู
Mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dia berkata: Aku berkata kepada Umar bin Abdil โAziz:
โAlangkah baiknya engkau menyatukan manusia dalam satu pendapat.โ
Beliau menjawab:
โAku tidak senang jika mereka tidak berbeda pendapat.โ
Humaid berkata: โLalu Umar bin โAbdil Aziz menulis surat ke semua penjuru negeri:
“Setiap penduduk di suatu negeri hendaknya memutuskan urusannya sesuai kesepakatan ahli fiqih mereka (di negeri masing-masing).โ (Sunan Ad Darimi No. 652, Bab Ikhtilaf Al Fuqaha).
Diceritakan dalam Al Mausuโah ketika Imam asy Syafi’i ke wilayah bermazhab Hanafi (tidak qunut subuh).
Beliau rela meninggalkan qunut subuh untuk menghormati pendapat penduduk setempat. Berikut ini kisahnya:
ุงูุดููุงููุนูููู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ุชูุฑููู ุงูููููููุชู ููู ุงูุตููุจูุญู ููู ููุง ุตููููู ู ูุนู ุฌูู ูุงุนูุฉู ู ููู ุงููุญููููููููุฉู ููู ู ูุณูุฌูุฏูููู ู ุจูุถูููุงุญูู ุจูุบูุฏูุงุฏู . ููููุงู ุงููุญููููููููุฉู : ููุนูู ุฐููููู ุฃูุฏูุจูุง ู ูุนู ุงูุฅููู ูุงู ู ุ ููููุงู ุงูุดููุงููุนููููุฉู ุจูู ุชูุบููููุฑู ุงุฌูุชูููุงุฏููู ููู ุฐููููู ุงููููููุชู .
โAsy Syafiโi Radhiallahu โAnhu meninggalkan qunut dalam subuh ketika Beliau shalat bersama jamaah bersama kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Berkata Hanafiyah: โItu merupakan adab bersama imam.โ Berkata Asy Syafiโiyyah (pengikut Asy Syafiโi): โBahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.โ (Al Mausuโah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302).[Sdz]
Sumber: Serambi Ilmu dan Faidah





