SETIAP anak tentu memiliki harapan terhadap orang tuanya. Ada yang mendambakan kasih sayang yang lebih besar, perhatian yang lebih hangat, atau dukungan yang tidak pernah benar-benar ia rasakan. Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa orang tua juga manusia biasa. Mereka memiliki keterbatasan ilmu, pengalaman, kemampuan, bahkan cara dalam mengekspresikan cinta kepada anak-anaknya.
Sering kali, apa yang tidak kita dapatkan dari orang tua bukan karena mereka tidak mencintai kita, melainkan karena mereka memang tidak mampu memberikannya. Bisa jadi mereka tidak pernah diajarkan bagaimana menunjukkan kasih sayang. Bisa jadi mereka tumbuh dalam lingkungan yang keras sehingga sulit mengungkapkan perhatian. Atau mungkin mereka sedang berjuang dengan masalah hidup yang tidak pernah kita ketahui.
Baca Juga: Membangun Keluarga yang Tak Hanya Indah Dipandang, tetapi Juga Menenangkan Jiwa
Belajar Berdamai dengan Kekurangan Orang Tua dan Menyerahkan Luka kepada Allah
Dalam kondisi seperti itu, Islam mengajarkan agar seorang hamba tidak terus-menerus memendam kekecewaan. Jika ada sesuatu yang tidak kita dapatkan dari orang tua, mintalah kepada Allah agar Dia melengkapinya dengan rahmat-Nya. Allah adalah Dzat Yang Maha Mencukupi segala kekurangan hamba-Nya.
Tidak semua luka harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua rasa kecewa harus dipelihara hingga bertahun-tahun. Semakin lama seseorang menyimpan kebencian, semakin berat pula beban yang dipikul hatinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya mengalami stres berkepanjangan, sulit merasa tenang, atau kehilangan kebahagiaan karena terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Dalam kehidupan, ada luka yang memang tidak bisa dihapus. Namun, luka itu bisa disembuhkan ketika seseorang memilih untuk menerima takdir dan menyerahkannya kepada Allah. Memaafkan bukan berarti membenarkan semua kesalahan yang pernah terjadi. Memaafkan adalah cara agar hati tidak terus terikat pada rasa sakit yang sama.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang kita anggap sebagai kekurangan orang tua bisa jadi merupakan hasil dari perjuangan panjang yang mereka alami. Mereka pun pernah menjadi anak, pernah terluka, dan mungkin belum sempat menyembuhkan luka mereka sendiri. Karena itulah, melihat orang tua dengan sudut pandang kasih sayang sering kali membuat hati menjadi lebih lapang.
Bukan berarti kita harus mengabaikan rasa sedih atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Perasaan kecewa tetap boleh dirasakan. Namun, jangan biarkan perasaan itu berubah menjadi kebencian yang terus menggerogoti jiwa. Berdoalah kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan kemampuan untuk menerima kenyataan dengan ikhlas.
Jika ada perhatian yang dulu kita harapkan tetapi tidak pernah datang, jika ada pelukan yang tidak pernah kita rasakan, atau ada kata-kata yang tidak pernah kita dengar, yakinlah bahwa Allah mampu mengganti semua kekurangan itu dengan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh manusia.
Kesembuhan hati tidak selalu dimulai ketika orang lain berubah. Sering kali, kesembuhan justru dimulai ketika kita berhenti menuntut masa lalu menjadi berbeda. Saat kita memilih memaafkan, menerima keterbatasan orang tua, dan menyerahkan semua luka kepada Allah, perlahan hati akan menemukan kedamaian.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, tidak ada keluarga yang sempurna. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang sama-sama sedang belajar. Maka, daripada terus memelihara ganjalan di hati, lebih baik memperbanyak doa, memperbaiki hubungan yang masih bisa diperbaiki, dan memohon kepada Allah agar setiap luka diganti dengan rahmat, ketenangan, serta kasih sayang-Nya yang tidak pernah habis. Dengan begitu, hati akan lebih ringan menjalani hidup dan tubuh pun dapat merasakan ketenangan yang selama ini dicari. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Zaidul Akbar




