• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Kamis, 6 Agustus, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Healthy

Muharram jadi Momentum Hijrah untuk Perbaiki Diri dan Bangun Kesehatan Mental

06/08/2026
in Healthy
Muharram jadi Momentum Hijrah untuk Perbaiki Diri dan Bangun Kesehatan Mental

Foto: Pinterest

66
SHARES
506
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

MUHARRAM menjadi momentum hijrah untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, serta membangun kesehatan mental dan keharmonisan keluarga.

Melalui syukur, husnuzan, dan kedekatan emosional dalam keluarga, setiap Muslim diajak menghadirkan ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Muharram selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjadi pribadi yang lebih baik?

Bagi umat Islam, Muharram identik dengan semangat hijrah. Namun, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.

Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan yang kurang baik, serta terus berusaha mendekat kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam sebuah kajian LPPOM di kantor Global Halal Center (GHC), Ust. Suhendi Alkhathab, Da’i MUI dan Dosen Fatahillah, mengajak jamaah untuk memaknai Muharram sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri, baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun keluarga.

Pesan tersebut selaras dengan doa yang Allah SWT ajarkan dalam Surah Al-Furqan ayat 74: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan tidak hanya diukur dari kualitas ibadah personal seseorang. Ketakwaan juga tercermin dari bagaimana seseorang membangun keluarganya, mendidik anak-anaknya, menjaga hubungan dengan pasangan, serta menghadirkan ketenangan dan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: 7 Tips Cara Menjaga Kesehatan Mental

Muharram jadi Momentum Hijrah untuk Perbaiki Diri dan Bangun Kesehatan Mental

Karena itulah, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tekanan, dua hal ini justru menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental seseorang.

Belakangan ini, pembahasan mengenai kesehatan mental semakin sering terdengar. Namun, tidak sedikit orang yang masih memahami kesehatan mental sebatas kondisi bebas dari gangguan psikologis. Padahal, maknanya jauh lebih luas.

Menurut Ust. Suhendi, salah satu ciri utama mental yang sehat adalah hadirnya rasa sejahtera dalam hidup. Sejahtera bukan berarti memiliki semua yang diinginkan, melainkan mampu menikmati dan mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Kita sering menjumpai orang yang hidup berkecukupan tetapi selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada pula mereka yang hidup sederhana namun terlihat tenang dan bahagia. Perbedaannya sering kali terletak pada cara memandang nikmat yang Allah berikan.

Rasa cukup inilah yang membuat seseorang lebih damai dalam menjalani kehidupan. Ia tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain atau merasa tertinggal oleh pencapaian orang lain.

Selain itu, mental yang sehat juga tercermin dari produktivitas. Bukan hanya produktif dalam pekerjaan atau menghasilkan pendapatan, tetapi produktif dalam memberikan manfaat.

Seorang ibu yang mendampingi tumbuh kembang anak dengan penuh kasih sayang, ayah yang bekerja keras untuk keluarganya, guru yang mengajarkan ilmu, atau siapa saja yang berusaha memberi manfaat kepada lingkungan sekitarnya, sesungguhnya sedang menjalankan bentuk produktivitas yang bernilai tinggi.

Mental yang sehat juga ditandai dengan kemampuan menghadapi tekanan hidup secara bijak. Sebab, tidak ada manusia yang bebas dari masalah. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang merespons masalah tersebut.

Ketika ujian datang, seseorang yang sehat secara mental tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Ia berusaha melihat hikmah di balik setiap peristiwa dan meyakini bahwa pertolongan Allah selalu lebih besar daripada kesulitan yang sedang dihadapi.

Dalam Islam, kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat dengan rasa syukur. Syukur membuat seseorang lebih fokus pada nikmat yang dimiliki daripada kekurangan yang dirasakan.

Saat seseorang terbiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam hidupnya, hatinya akan lebih mudah merasa tenang. Ia tidak sibuk menyalahkan keadaan, masa lalu, ataupun orang lain atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.

Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada doa yang belum dikabulkan, ada cita-cita yang tertunda, dan ada rencana yang tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan.

Di sinilah pentingnya husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah. Bagi seorang mukmin, setiap peristiwa yang terjadi selalu mengandung hikmah. Mungkin hari ini kita belum memahami alasannya, tetapi Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sikap husnuzan inilah yang menjadi sumber kekuatan batin ketika seseorang menghadapi masa-masa sulit. Ia tetap optimistis karena percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Menurut Ust. Suhendi, kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis, psikologis, hingga spiritual. Namun, aspek spiritual memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi sumber ketenangan yang paling mendasar.

Ketika hubungan dengan Allah SWT terjaga, seseorang memiliki tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan.

Ia sadar bahwa setiap persoalan dapat dibawa dalam doa dan setiap kesedihan dapat diadukan kepada Sang Pencipta. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan spiritual adalah shalat tahajud.

Di saat kebanyakan manusia terlelap, seorang hamba bangun untuk bermunajat kepada Allah. Pada waktu itulah hati menjadi lebih jujur, doa terasa lebih khusyuk, dan hubungan dengan Allah terasa lebih dekat.

Selain tahajud, menjaga shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta membiasakan zikir juga menjadi ikhtiar yang dapat menjaga ketenangan jiwa.

Ibadah yang dilakukan secara konsisten bukan hanya memperkuat hubungan dengan Allah, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Di tengah berbagai tuntutan kehidupan modern, keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. Sayangnya, tidak sedikit keluarga yang secara fisik tinggal serumah, tetapi secara emosional justru saling berjauhan.

Kesibukan pekerjaan, aktivitas yang padat, serta penggunaan gawai yang berlebihan sering kali mengurangi kualitas komunikasi di dalam rumah.

Padahal, emotional bonding dalam keluarga tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar dan rumit. Kedekatan emosional justru sering tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Makan bersama, berbincang tanpa gangguan telepon genggam, mendengarkan cerita pasangan dan anak-anak, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau sekadar menanyakan kabar merupakan bentuk perhatian yang sangat berarti.

Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Perhatian-perhatian kecil tersebut membuat setiap anggota keluarga merasa dihargai, didengar, dan dicintai.

Selain itu, keluarga juga perlu memiliki momen ibadah bersama. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, atau berdiskusi tentang nilai-nilai Islam dapat memperkuat hubungan emosional sekaligus hubungan spiritual antaranggota keluarga.

Ust. Suhendi juga mengingatkan pentingnya budaya saling mengevaluasi dalam rumah tangga.

Pasangan suami istri perlu sesekali bertanya satu sama lain: apa yang masih perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, dan bagaimana menjadi pasangan yang lebih baik dibandingkan hari kemarin. Dengan cara itulah proses hijrah dapat terus berlangsung dalam kehidupan keluarga.

Pada akhirnya, spirit Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Hijrah bukan hanya tentang menjadi lebih rajin beribadah, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih bersyukur, lebih mampu mengelola emosi, dan lebih hadir untuk keluarga.

Muharram mengajak kita berhijrah dari keluh kesah menuju syukur, dari prasangka buruk menuju husnuzan, dan dari hubungan keluarga yang renggang menuju keluarga yang penuh kasih sayang.

Sebab keluarga yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecukupan materi, tetapi juga oleh hati yang sehat, hubungan yang hangat, dan kedekatan dengan Allah.

Ketika spiritualitas terjaga, kesehatan mental pun akan lebih kokoh. Dan ketika kesehatan mental serta kedekatan emosional dalam keluarga tumbuh dengan baik, rumah akan menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan bagi seluruh penghuninya. [Din]

Tags: Muharram jadi Momentum Hijrah untuk Perbaiki Diri dan Bangun Kesehatan Mental
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Cara Merawat Lensa Kontak Warna

  • Ashanty, Anang dan Azriel Rayakan Wisuda Bersama di Universitas Airlangga

    Ashanty, Anang dan Azriel Rayakan Wisuda Bersama di Universitas Airlangga

    3520 shares
    Share 1408 Tweet 880
  • 5 Ide Kreasi Camilan Simpel dengan Rice Paper yang Renyah dan Lezat

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • 5 Objek Wisata Terbaik di Cilacap

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Siswa-Siswi SMA Jakarta Islamic School Berhasil Tembus Universitas Ternama di Berbagai Negara

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4092 shares
    Share 1637 Tweet 1023
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9043 shares
    Share 3617 Tweet 2261
  • Shobrun Jamil, Bersabar Seperti Aisyah

    323 shares
    Share 129 Tweet 81
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4731 shares
    Share 1892 Tweet 1183
  • Bahasa Gaul di Era Digital: Kreativitas Anak Muda atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    629 shares
    Share 252 Tweet 157
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga