SEBAGAI Ketua JF3, Soegianto Nagaria, menegaskan bahwa pengembangan talenta muda di industri fashion tidak cukup hanya dengan menyediakan panggung untuk memamerkan karya. Menurutnya, desainer muda juga membutuhkan proses pembelajaran, pendampingan, jejaring, serta kesempatan untuk terus berkembang secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan peragaan hasil kolaborasi Future Fashion Designer (FFD), PINTU Incubees, dan École Duperré Paris, yang menjadi bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival 2026, pada Kamis (23/7/2026), di Summarecon Kelapa Gading.
“Program ini dibangun atas keyakinan bahwa talenta muda membutuhkan lebih dari sekadar panggung. Mereka juga membutuhkan proses pembelajaran, pendampingan, jejaring, dan kesempatan untuk berkembang secara berkelanjutan,” ujar Soegianto Nagaria.
Ia menjelaskan, memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, PINTU terus memperkuat ekosistem pembinaan desainer muda melalui tiga program utama, yakni PINTU Innovator, PINTU Accelerator, dan PINTU Residency. Ketiga program tersebut dirancang untuk mendampingi pelaku industri fashion pada berbagai tahapan perkembangan sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Indonesia dan Prancis.
“Memasuki tahun kelima, PINTU kini menjalankan tiga program utama, yaitu PINTU Innovator, PINTU Accelerator, dan PINTU Residency. Ketiganya dirancang untuk mendampingi pelaku fashion pada tahap perkembangan yang berbeda sekaligus membuka ruang bertukar pengetahuan dan pengalaman antara Indonesia dan Prancis,” katanya.

Baca juga: Fengyuan Dai, Fashion Menjadi Ruang Menemukan Identitas di Tengah Dunia yang Saling Terhubung
Soegianto Nagaria Ucap Talenta Muda Fashion Membutuhkan Pembinaan Berkelanjutan, Bukan Sekadar Panggung
Menurut Soegianto, koleksi yang ditampilkan dalam peragaan busana malam ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pembelajaran, eksplorasi, dialog, refleksi, serta pendampingan dari berbagai desainer, mentor, institusi, dan mitra dari kedua negara.
“Karya-karya yang akan kita saksikan malam ini merupakan hasil dari proses tersebut. Di balik setiap koleksi terdapat perjalanan belajar, eksplorasi, dialog, refleksi, serta pendampingan yang melibatkan para desainer, mentor, institusi, dan berbagai pihak dari Indonesia maupun Prancis,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi perjalanan PINTU dengan diresmikannya Yayasan PINTU Innovator Indonesia. Kehadiran yayasan tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi kelembagaan sehingga program pembinaan dan kolaborasi yang telah dibangun selama lima tahun terakhir dapat terus berjalan secara berkesinambungan.
“Tahun ini juga menjadi penanda penting dengan diresmikannya Yayasan PINTU Innovator Indonesia. Yayasan ini memberikan fondasi kelembagaan yang lebih kuat untuk menjaga kesinambungan program serta kerja sama yang telah dibangun selama lima tahun terakhir,” jelasnya.
Bagi JF3, lanjut Soegianto, peragaan busana bukan sekadar ajang menampilkan koleksi terbaru, melainkan bukti bahwa kolaborasi yang dilakukan secara konsisten mampu menghasilkan karya sekaligus membuka peluang baru bagi para desainer muda.
“Bagi JF3, panggung malam ini bukan hanya sebuah presentasi koleksi. Ini adalah bukti bahwa kolaborasi yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan karya, membuka kesempatan, dan mempertemukan dua ekosistem fashion dalam sebuah proses yang saling memperkaya,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Soegianto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan PINTU selama lima tahun terakhir.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada Kedutaan Besar Prancis, Institut Français Indonesia, Lakon Indonesia, seluruh mentor, institusi, mitra, tim, dan semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan PINTU,” pungkasnya. [Din]


