CHILD grooming dapat dipahami sebagai tindakan manipulasi di mana seorang pelaku menjalin hubungan emosional dengan anak di bawah umur untuk memperoleh kepercayaan mereka.
Tujuan utama pelaku adalah memanfaatkan dan mengeksploitasi anak demi kepentingan pribadi, baik secara seksual maupun materi.
Sebagaimana dijelaskan dalam laman Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, pelaku biasanya menargetkan anak yang terlihat memiliki “kekosongan” dalam hidupnya, seperti kurang perhatian orang tua, masalah pertemanan, atau kesulitan sosial.
Kekosongan tersebut kemudian diisi pelaku dengan memberikan perhatian, dukungan, atau hadiah kecil agar anak merasa diperhatikan dan istimewa.
Setelah anak merasa bergantung dan percaya, pelaku mulai mengeksploitasi mereka. Bentuk eksploitasi bisa berupa sentuhan tidak pantas, permintaan perilaku seksual, hingga pemerasan.
Anak yang sudah terikat secara emosional biasanya sulit menolak, karena merasa terikat dengan pelaku. Pelaku juga kerap membatasi interaksi anak dengan keluarga atau teman, sehingga mempermudah kontrol dan manipulasi.
Baca juga: Pubertas Dini juga Mempengaruhi Psikologis Anak
Kenali Apa Itu Child Grooming, Tahapan Terjadinya hingga Dampak Bagi Anak
Seiring perkembangan teknologi, child grooming kini juga bisa terjadi secara daring. Anak-anak yang aktif di dunia maya kadang tanpa sadar menunjukkan kerentanan, yang bisa dimanfaatkan pelaku sebagai pintu masuk.
Kasus yang awalnya melalui layar ini pun berpotensi berkembang menjadi pertemuan langsung di dunia nyata.
Child grooming biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap yang sistematis. Memahami tahapan ini penting agar orang tua dan pengasuh bisa lebih waspada.
Dilansir dari laman Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta, berikut adalah tahapan umumnya:
Menargetkan korban: Pelaku memilih anak yang rentan atau mudah dipengaruhi.
Membangun kepercayaan: Pelaku mendekati korban dan keluarganya untuk menciptakan hubungan yang akrab.
Pemenuhan kebutuhan: Pelaku memberikan perhatian khusus, hadiah, atau bantuan untuk memenuhi kebutuhan emosional atau materi korban.
Isolasi: Pelaku berusaha memisahkan korban dari lingkungan sosialnya, termasuk keluarga dan teman-teman.
Normalisasi perilaku seksual: Pelaku mulai memperkenalkan topik atau tindakan seksual secara bertahap untuk menurunkan pertahanan korban.
Eksploitasi seksual: Setelah korban terisolasi dan terpengaruh, pelaku mulai melakukan pelecehan atau eksploitasi seksual.
Dampak dari child grooming tidak hanya bersifat fisik atau sementara. Pengalaman ini bisa meninggalkan luka psikologis yang mendalam, antara lain:
Trauma psikologis: Anak bisa mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau PTSD.
Masalah kepercayaan: Kesulitan mempercayai orang lain atau membangun hubungan di masa depan.
Perilaku merusak diri: Kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan mencoba bunuh diri.
Stigma sosial: Menghadapi penilaian negatif dari masyarakat atau teman sebaya.
Memahami dampak ini membantu orang tua dan pengasuh memberikan perhatian dan dukungan yang tepat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mendeteksi anak yang menjadi korban child grooming memang cenderung sulit, karena perilaku manipulatif pelaku sering tampak normal. Meski begitu, beberapa tanda bisa dikenali, termasuk:
Perubahan perilaku: Anak menjadi lebih tertutup, cemas, atau depresi tanpa alasan jelas.
Hadiah tak terduga: Menerima barang-barang mewah atau uang tanpa penjelasan yang masuk akal.
Rahasia tentang aktivitas daring: Anak merahasiakan aktivitas daringnya atau memiliki akun media sosial yang tidak diketahui orang tua.
Hubungan dengan orang dewasa yang tidak dikenal: Menjalin hubungan dekat dengan individu dewasa yang tidak dikenal oleh keluarga.
Penurunan prestasi akademik: Kinerja sekolah menurun atau sering bolos tanpa alasan jelas.
Jika orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, pendekatan yang lembut dan terbuka pada anak sangat dianjurkan. [Din]




