BAGAIMANA cara membangun Self esteem? Self esteem itu adalah bagaimana diri dan orang lain memandang diri kita termasuk juga tentang seberapa besar kita mencintai dan menghargai diri sendiri.
Orang yang belum bisa percaya diri itu karena self esteem nya belum kuat. Lalu bagaimana cara menumbuhkan perasaan menghargai dan mencintai diri sendiri.
Pertama, self esteem itu berhubungan dengan kompetensi. Misalnya jika kita jago bahasa Inggris maka kita akan percaya diri saat bertemu dengan orang asing. Misalnya lagi, ketika kita jago di bidang parenting maka kita akan lebih percaya diri saat menjadi narasumber di bidang itu tapi jika kita tiba-tiba diminta berbicara tentang digital marketing dan kita tidak memiliki kompetensi di bidang itu maka kita tidak akan percaya diri berbicara tentang hal tersebut.
Namun itu masih normal kok, yang tidak normal itu saat kita sudah mulai memiliki krisis kepercayaan diri misalnya menghindar saat ketemu orang, tidak berani atau malu menyampaikan pendapat, malu di lingkungan kerjanya. Itu sudah tidak normal.
Lalu bagaimana kita mampu mengembalikan rasa percaya diri kita. Langkah kedua adalah kita harus berada di lingkungan yang men-support diri kita. Ada sebuah cerita.
Seorang murid sedang membersihkan aquarium gurunya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub. Tanpa disadari oleh si murid, gurunya sudah berada di belakangnya.
“Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang guru.
“Tidak tahu,” jawab si murid.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah,” perintah sang guru.
Ia mengambil foto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang guru.
“Ditawar berapa Nak?” tanya sang guru.
“50.000 rupiah guru,” jawab si murid mantap.
“Coba tawarkan ke toko ikan hias!” Perintah sang guru lagi.
“Baiklah guru,” jawab si murid. Kemudian ia beranjak pergi ke toko ikan hias.
Sekembalinya si murid, guru itu kembali bertanya, “Berapa ia menawar ikan itu?”
“800.000 rupiah guru,” jawab si murid dengan gembira, ia mengira sang guru akan melepas ikan itu untuk dijual.
“Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa sertifikat ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba,” Perintah sang guru lagi.
“Baik guru,” jawab si murid. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
“Berapa ia menawar ikannya?”.
“50 Juta rupiah guru,” murid itu mengatakannya sambil masih terkejut sendiri menyaksikan harga seekor ikan arwana bisa berbeda-beda.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat…”
“Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu.
Guru itu masih terus melanjutkan, “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita. Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita. Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.”
“Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita. Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.”
Baca juga: Empat Cara Menjadikan Diri Kita Lebih Percaya Diri Bicara di Depan Umum
Cara Membangun Self Esteem
Apa hikmahnya, jika kita ingin dihargai maka kita harus berada di lingkungan yang tepat. Kita harus berada di lingkungan yang menghargai kompetensi atau kelebihan yang kita miliki.
Begitulah ketika kita berada di lingkungan yang tepat maka kita akan dihargai. Saat kita berada di lingkungan toxic, berada di lingkungan yang tidak supportif maka kita tidak akan dihargai dan itu meruntuhkan rasa kepercayaan diri kita.
Ketiga, kita perlu mengakses masa-masa kesuksesan kita dulu. Pastilah, setiap orang memiliki momen yang menjadikan dirinya itu berharga. Kita perlu membuka kembali foto saat wisuda, saat keterima kerja yang menegaskan bahwa dulu kita pernah sukses.
Coba pandang kembali sertifikat kelulusan atau piagam, piala saat kita pernah juara lomba, itu adalah masa-masa kesuksesan. Jika dulu kita pernah sukses maka di masa depan kita juga bisa sukses.
Keempat, hindari mindset murah atau tidak berdaya. Beli sepatu yang murah, baju yang murah karena perasaan tidak pantas, tidak berdaya, merasa kekurangan, merasa tidak punya uang dan merasa tidak layak.
Intinya saat membeli sesuatu jangan sampai pikiran mengakses perasaan tidak mampu beli, perasaan kekurangan, tidak pantas, tidak layak dsb karena itu menjadi cerminan bahwa mindset kita masih mindset miskin tidak berdaya, tidak berharga.
Termasuk juga saat kita lebih suka menerima dari orang lain daripada memberi maka itu juga mindset kekurangan/kemiskinan. Jadi ubahlah mindset-nya, saat kita membayar listrik, membayar biaya sekolah, membeli sesuatu, mindset-nya bersyukur. Misalnya, “Alhamdulillah Allah memberiku rezeki sehingga aku bisa membayar biaya sekolah anak, terima kasih ya Allah”.
“Alhamdulillah diberi rezeki Allah untuk membeli makan malam buat keluarga”. Jadi mindset-nya bersyukur. Hilangkan mindset kekurangan, kekhawatiran misalnya “aduh bayar biaya sekolah, bayar listrik, bayar ini, itu uang tinggal sedikit, bagaimana nanti kalau uangnya habis, anak istriku nanti makan apa?”.
Lalu banyaklah berbagi karena berbagi itu membangun mindset kaya, sedangkan suka diberi itu membangun mindset miskin.
Terakhir, Mulailah belajar dari penampilan yang enak dipandang. Good looking menumbuhkan self esteem. Nabi memerintahkan kita untuk berpenampilan menarik karena saat kita berpenampilan menarik akan menumbuhkan rasa diri berharga dan menciptakan rasa percaya diri.[ind]





