FASHION desainer Ning Santoso menghadirkan koleksi bertajuk “Skyline Ascent” dalam gelaran Fashion Nation 2026 di Senayan City, Jakarta, Minggu (20/9/2026). Koleksi tersebut menerjemahkan kekuatan struktur dan kemegahan arsitektur Jakarta ke dalam busana modern yang tegas, elegan, dan berkarakter.
Saat ditemui dalam wawancara pada acara tersebut, Ning Santoso menjelaskan bahwa koleksi Skyline Ascent mengambil inspirasi dari gedung-gedung pencakar langit yang menjadi bagian dari lanskap Jakarta. Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui busana dengan karakter casual dan office look.
“Hari ini Ning Santoso akan menampilkan koleksi Skyline Ascent. Skyline Ascent itu menampilkan gedung-gedung pencakar langit yang ada di Jakarta. Nah, kebetulan kali ini Ning Santoso menampilkan koleksi yang casual-casual karena temanya memang office look,” ujar Ning Santoso.
Melalui koleksi tersebut, Ning Santoso menggambarkan perjalanan aktivitas perempuan di tengah kehidupan perkotaan Jakarta. Busana dimulai dari karakter office look untuk aktivitas pagi, kemudian berkembang ke kebutuhan siang hari seperti menghadiri pertemuan maupun acara sosial, hingga tampilan yang merefleksikan gemerlap Jakarta pada malam hari.
“Saya menceritakan perjalanan fashion untuk di Jakarta. Dari perjalanan pagi hari, office look pagi, jadi kayak orang buat style-style ke kantor. Terus siang misalnya mau meeting, mau arisan, atau yang lainnya, sampai hingga baju-baju fashion perjalanan untuk gemerlapnya kota Jakarta,” jelasnya.
Dalam presentasinya, Ning Santoso menghadirkan sejumlah tampilan yang menggambarkan perjalanan visual tersebut. Berdasarkan materi press release, Skyline Ascent membawa 12 tampilan, yang terdiri dari 10 runway looks, satu special look untuk MC, dan satu designer look.
Baca juga: Penutupan Spotlight Indonesia 2024 Jadi Perayaan 9 Tahun Anniversary IFC
Ning Santoso Hadirkan Skyline Ascent, Terjemahkan Ikon Gedung Jakarta ke Busana Casual
Ning Santoso menyebutkan bahwa pada koleksi kali ini terdapat delapan look untuk model serta dua look khusus muse.
“Jadi saya menampilkan delapan look, delapan look untuk model, dua look untuk muse,” katanya.
Salah satu pembeda utama Skyline Ascent adalah eksplorasi teknik dan detail yang digunakan Ning Santoso. Ia menghadirkan inovasi melalui penggunaan resleting yang tidak hanya berfungsi sebagai bagian konstruksi busana, tetapi dibentuk menjadi representasi gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
“Yang membedakan adalah saya membuat suatu terobosan atau inovasi baru. Jadi saya mau menampilkan dengan kreativitas menggunakan resleting. Resleting yang saya bentuk menjadi gambar-gambar gedung pencakar langit yang ada di Jakarta,” ungkapnya.
Detail tersebut dikerjakan secara handmade untuk memberikan karakter artisanal pada busana. Selain resleting, Ning Santoso juga memadukan teknik sashiko, teknik sulam yang berasal dari Jepang, serta teknik print.
“Jadi handmade, benar-benar dari tangan. Lalu saya juga menggunakan teknik sashiko di situ, jadi ada beberapa teknik. Teknik sashiko itu kan sekarang lagi happening juga, jadi saya juga suka banget menggunakan kreativitas menggunakan tangan handmade, sashiko dan print,” tuturnya.
Dalam materi koleksi, eksplorasi teknik menjadi salah satu karakter kuat Skyline Ascent. Selain print bernuansa arsitektur dan detail sashiko Jepang, terdapat pula eksplorasi resleting yang disusun menyerupai struktur gedung untuk memberikan pendekatan inovatif pada busana.
Ikon-ikon kota Jakarta seperti Monas, Thamrin Nine, Autograph Tower, dan Agora Mall turut menjadi bagian dari inspirasi visual koleksi. Elemen-elemen tersebut diterjemahkan melalui garis vertikal, konstruksi tegas, serta detail arsitektural yang menggambarkan kekuatan dan perkembangan Jakarta.
Untuk material, Ning Santoso memilih kain yang sesuai dengan karakter busana casual dan office look.
“Kain yang digunakan kain-kain katun dan semi-wool. Jadi memang kain-kain yang untuk baju-baju casual,” katanya.
Pemilihan material tersebut turut mendukung konsep koleksi yang bergerak dari tampilan formal perkotaan menuju gaya yang lebih ekspresif. Struktur busana tetap dipertahankan, sementara permainan teknik, detail dan material memberikan variasi pada setiap tampilan.
Secara keseluruhan, Skyline Ascent menggambarkan perjalanan perempuan dan Jakarta yang terus tumbuh bersama. Konsep tersebut diterjemahkan melalui transformasi busana dari karakter formal dan clean pada aktivitas pagi hingga tampilan yang semakin ekspresif untuk merepresentasikan gemerlap kota pada malam hari.
Melalui koleksi ini, Ning Santoso tidak sekadar mengambil gedung pencakar langit sebagai referensi visual. Struktur arsitektur Jakarta diolah menjadi garis, detail, teknik, dan konstruksi busana, sehingga lanskap kota hadir dalam bentuk fashion yang modern dan tetap memiliki sentuhan handmade.
Skyline Ascent pun menjadi refleksi perjalanan visual tentang perempuan dan Jakarta yang bergerak dari terang menuju gemerlap malam, dengan mempertahankan karakter elegan, tegas, dan kuat sebagai identitas koleksi Ning Santoso. [Din]




