MOMEN Lebaran, perempuan dinilai berperan krusial dalam menjaga keseimbangan rumah tangga. Hal itu diungkapkan Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Anis Byarwati.
Idul Fitri selalu menjadi momen untuk kembali ke fitrah—memperbaiki diri, mempererat kebersamaan, dan menguatkan kepedulian sosial.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, momentum ini juga menjadi saat yang tepat untuk melihat kembali peran penting perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga.
Anis Byarwati menilai bahwa dalam situasi ekonomi saat ini, perempuan—terutama para ibu—memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga keseimbangan rumah tangga.
“Dalam kondisi sekarang, perempuan itu benar-benar jadi penopang utama di keluarga. Para ibu harus makin pintar mengatur keuangan kekuarga, memastikan kebutuhan terpenuhi, walaupun kondisi ekonomi sedang tidak mudah,” ujar Anis.
Ia mengakui bahwa tekanan ekonomi dirasakan nyata oleh masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
“Kita tidak bisa menutup mata, harga-harga kebutuhan sehari-hari masih terasa tinggi bagi banyak keluarga. Situasi ini membuat perempuan sering kali harus mencari cara tambahan, bahkan ikut menambah penghasilan keluarga,” lanjutnya.
Baca juga: Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Lebaran
Namun demikian, Anis menegaskan bahwa mencari nafkah bukanlah tugas utama perempuan, melainkan tanggung jawab yang pada dasarnya berada pada laki-laki, sementara perempuan memiliki peran utama dalam menjaga dan mengelola kehidupan keluarga.
“Perlu dipahami, mencari nafkah bukan tugas utama perempuan. Maka ketika perempuan ikut berkontribusi dalam ekonomi keluarga, itu adalah bentuk dukungan dan kekuatan tambahan, bukan kewajiban utama,” tegasnya.
Menurut Anis, justru dalam kondisi saat ini, penting untuk memperkuat kerja sama yang sehat antara suami dan istri dalam mengelola ekonomi keluarga.
“Mengelola ekonomi keluarga itu membutuhkan kerja sama. Suami dan istri perlu saling memahami, berkomunikasi dengan baik, dan berbagi peran secara bijak. Dengan begitu, beban tidak bertumpu pada satu pihak, dan keluarga bisa lebih kuat menghadapi tantangan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa ketangguhan perempuan Indonesia perlu didukung dengan kebijakan yang berpihak, agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa berkembang.
“Perempuan punya potensi besar, terutama di sektor UMKM. Karena itu, akses permodalan, pelatihan, dan perlindungan sosial harus benar-benar diperkuat, supaya perempuan bisa lebih berkembang secara ekonomi,” tambahnya.
Di momentum Idul Fitri ini, Anis juga mengajak masyarakat untuk memperkuat semangat kebersamaan dan saling membantu, terutama bagi mereka yang masih terdampak kondisi ekonomi.
“Idul Fitri mengingatkan kita untuk saling peduli. Di tengah situasi yang menantang, semangat berbagi dan gotong royong menjadi sangat penting untuk menjaga kekuatan sosial kita,” ujarnya.
Ia berharap perempuan Indonesia ke depan tidak hanya kuat menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga semakin memiliki ruang, dukungan, dan kemitraan yang seimbang dalam keluarga.
“Harapan saya, perempuan Indonesia bisa semakin tangguh tanpa harus menanggung beban sendirian. Dengan kerja sama yang baik antara suami dan istri, serta saling memahami peran masing-masing, keluarga akan menjadi lebih kokoh. Dari keluarga yang kuat dan harmonis, insyaAllah ketahanan ekonomi bangsa juga akan semakin terjaga,” tutup Anis.[ind]



