MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai kerukunan menjadi salah satu modal penting Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Menurutnya, pengalaman panjang bangsa Indonesia dalam merawat keberagaman memperkuat posisi Indonesia untuk membangun komunikasi yang terbuka, tenang, dan konstruktif di tengah perbedaan kepentingan antarnegara.
Menag mengatakan, prinsip politik luar negeri bebas aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk menjaga komunikasi dengan berbagai pihak tanpa harus terikat pada pertentangan blok tertentu.
Prinsip tersebut, menurutnya, membuat Indonesia dapat mengambil peran secara konstruktif di tengah situasi geopolitik yang dinamis.
Menag menjelaskan, politik jalan tengah bukan berarti Indonesia bersikap pasif terhadap persoalan global.
Indonesia tetap dapat menyampaikan pandangan, membangun komunikasi, dan berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan dengan cara yang tidak memperkeruh keadaan.
Baca juga: Kemenag Benahi Tata Kelola Data Guru Madrasah
Menag Nilai Kerukunan jadi Modal Penting Indonesia dalam Menghadapi Dinamika Global
Ia menekankan, keterlibatan Indonesia dalam pergaulan internasional perlu membawa suasana yang menenangkan.
Dalam situasi konflik, menurutnya, pendekatan yang menyejukkan lebih dibutuhkan daripada sikap yang memperbesar jarak antarpihak.
Menag mengatakan, salah satu kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan masyarakatnya beradaptasi dan hidup bersama dalam keberagaman.
Dengan latar belakang agama, suku, bahasa, dan budaya yang sangat beragam, Indonesia tetap memiliki fondasi kebangsaan yang mempersatukan. Indeks Kerukunan Umat Beragama Naik, Tertinggi dalam 11 Tahun
Kondisi kerukunan tersebut juga tercermin dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025. Berdasarkan hasil pengukuran nasional, IKUB 2025 tercatat sebesar 77,89 dan berada dalam kategori tinggi.
Capaian ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama perlu terus dirawat sebagai modal sosial bangsa.
Menag juga menyinggung budaya maritim Nusantara sebagai salah satu akar karakter bangsa Indonesia. Budaya maritim, menurutnya, membentuk masyarakat yang terbuka, adaptif, dan terbiasa menerima kehadiran pihak lain sepanjang dilandasi niat baik.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ia menyebut falsafah masyarakat pesisir yang memberi ruang bagi perahu untuk bertambat, air untuk dimanfaatkan, dan api untuk dibagi sebagai gambaran nilai keterbukaan dalam budaya Indonesia. Nilai tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam membangun komunikasi lintas perbedaan.
Menag mengajak generasi muda meneladani para pendiri bangsa dan tokoh organisasi kemasyarakatan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Kemampuan beradaptasi dan membangun kesepakatan di tengah perbedaan dinilai menjadi bagian penting dari karakter kebangsaan Indonesia.
Melalui kerukunan, politik bebas aktif, dan pengalaman hidup dalam keberagaman, Indonesia diharapkan dapat terus menjaga peran konstruktif dalam pergaulan internasional.
Menag menilai, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan membangun komunikasi, merawat persaudaraan, dan menjaga ruang kebersamaan di tengah perbedaan. [Din]





