KONDISI anak-anak yang menjadi korban banjir bandang pada akhir November 2025 cukup memprihatinkan. Saat ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak untuk datang berobat ke RSUD.
Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh para dokter di rumah sakit, penyakit yang paling sering dikeluhkan adalah diare akut, infeksi saluran pernapasan, seperti batuk, pilek dan pneumonia, serta keluhan kulit seperti gatal-gatal, iritasi dan infeksi kulit.
Penyebabnya sangat erat dengan kondisi pascabencana, seperti air bersih yang sangat terbatas aksesnya. Situasi pengungsian yang sanitasinya sangat belum optimal dan lingkungan yang kotor.
Baca juga: Layanan Pendidikan Pascabencana, jadi Acuan Pemerintah Daerah
Kondisi Anak-Anak Korban Banjir Bandang di Aceh Tamiang dan Penanganannya
Karena area pengungsian di sekitar rumah sakit lembab dan becek saat hujan dan sangat berdebu saat kering.
Ditambah lagi, kondisi pengungsian yang sangat padat berkontribusi terhadap penyebaran penyakit. RSUD Aceh Tamiang sudah beroperasi kembali sejak 9 Desember 2025, meskipun pelayanan kesehatannya cukup terbatas.
Namun, untuk pelayanan dasar anak masih bisa dilakukan, seperti penanganan kegawatan awal, tata laksana infeksi ringan sampai sedang dan pemantauan kondisi umum dari pasien anak.
Rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dilakukan karena lingkungannya paling aman untuk kondisi pasien anak.
Selain pelayanan kesehatan yang masih terbatas, ada beberapa tantangan lain yang dihadapi oleh para dokter anak di RSUD Aceh Tamiang.
Pertama adalah akses pelayanan kesehatan yang belum bisa menjangkau seluruh masyarakat di Aceh Tamiang karena beberapa wilayah masih sulit dijangkau.
Alhasil, anak yang sedang sakit tidak bisa langsung ditangani, sehingga sebagian anak datang dalam kondisi yang cukup berat atau bahkan mereka tidak bisa ke rumah sakit.
Para dokter anak pun terus beradaptasi dalam mencoba menjaga keselamatan pasien, sekaligus mencoba meningkatkan kualitas pelayanan.
Selanjutnya adalah alur rujukan. Jarak yang jauh, akses kendaraan terbatas dan antrian di rumah sakit rujukan, membuat proses rujukan berjalan lambat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Gizi anak menjadi masalah yang sering luput dari perhatian khalayak. Padahal, dalam situasi pascabencana, kualitas dan keamanan makanan anak sering menurun.
Gangguan gizi, pola makan yang tidak sesuai dengan usia dan cara pemberian makanan yang kurang higienis pun terjadi.
Sulitnya akses air bersih di pengungsian, serta sanitasi yang buruk, memang termasuk kendali eksternal. Namun, ini juga menjadi perhatian pada dokter anak karena bisa menyebabkan penyakit.
Sebab, para dokter tidak hanya bertugas dalam mengobati, tetapi juga mencegah anak untuk masuk ke dalam siklus sakit karena kurang gizi. [Din]





