DUKUNGAN untuk Palestina merdeka dari negara-negara Barat kian membesar. Setelah Prancis dan Belanda, Inggris pun dikabarkan mengungkapkan hal yang sama. Tapi, merdeka yang seperti apa?
Merdeka di ‘Atas Kertas’
Tentang pengakuan kemerdekaan Palestina sejatinya bukan kali ini saja. Bahkan hal itu sudah berlangsung sejak 15 November 1988. Kala itu, Yasser Arafat mendeklarasikan Palestina Merdeka.
Tidak main-main, ada sekitar 94 negara telah mengakui kemerdekaan ala Yasser Arafat itu. Termasuk Indonesia, Malaysia, Aljazair, dan lainnya. PBB pun ikut menyambut positif deklarasi tersebut.
Namun, hingga saat ini, makna merdeka yang diberikan untuk Palestina hanya sebatas di ‘atas kertas’. Kenyataannya, Israel tetap sebagai penguasa di Palestina. Bahkan, hingga akhir hayatnya sang presiden Yasser Arafat tidak bisa menginjakkan kakinya di Palestina. Pemimpin PLO ini wafat di Clamart, Prancis.
Solusi Dua Negara
Ada usulan lain yang disebut sebagai Palestina Merdeka. Yaitu, adanya dua negara yang berdampingan di Palestina, yaitu Israel dan Palestina.
Usulan ini yang kini laris manis disuarakan oleh negara-negara Barat dan negara-negara lain yang ewuh pakewuh dengan Amerika dan Israel.
Pertanyaannya, apa realistis? Dan kenyataannya, usulan yang ngambang ini pun sudah ditolak mentah-mentah oleh Amerika dan Israel sendiri.
Logikanya, bagaimana mungkin sebuah negara penjajah mau hidup berdampingan dengan bangsa yang dijajahnya? Terlebih lagi, si penjajah merasa berada di ‘atas angin’.
Realiatas Bangsa Palestina
Bisa dibilang, saat ini orang-orang Palestina yang tinggal di luar negeri jauh lebih besar dari yang tinggal di Palestina saat ini. Mereka pergi meninggalkan tanah kelahirannya karena terpaksa sebagai pengungsi.
Kini, wujud Palestina terpecah di dua wilayah yang berbeda. Satu di Tepi Barat yang berada di bagian utara Palestina, satunya lagi di Gaza yang ada di selatan.
Menariknya, baik yang di Tepi Barat maupun yang di Gaza sama-sama tidak terhubung dengan baik. Baik itu terhubung secara komunikasi maupun secara wilayah.
Jangan heran jika baru-baru ini, Mahmud Abbas sebagai penguasa Tepi Barat, menyerukan agar Hamas menyerahkan semua persenjataannya demi perdamaian Palestina.
Ini tentu sebuah seruan yang aneh, kalau tidak mau disebut bodoh. Penyebab kekacauan di Gaza bukan karena Hamas memberikan perlawanan, tapi karena kebengisan dan kezaliman Israel.
Rezim Yahudi Kini Menguasai Dunia
Persoalan mendasar dari sulitnya Palestina Merdeka bukan karena dari dalam Palestina itu sendiri. Tapi karena hegemoni dunia yang saat ini dikuasai Yahudi pasca perang dunia kedua yang dimenangkan Barat.
Israel masuk ke Palestina bukan karena berhasil menaklukan bangsa Palestina seperti Amerika terhadap suku asli Indian, atau Australia terhadap Aborigin. Tapi karena Barat dalam hal ini Inggris dan Amerika membagi-bagi wilayah yang mereka kuasai pasca perang dunia kedua.
Dengan kata lain, selama hegemoni dunia masih dikuasai Barat dan Yahudi, sulit bisa mengembalikan wilayah Palestina kepada empunya. Akan selalu ada campur tangan Amerika dan Barat untuk membela eksistensi Israel di Palestina.
Jadi, tumbangkan dahulu hegemoni Yahudi dan Barat. Baru kemudian, berjuang untuk mengusir Israel dari bumi Palestina.
Masalah utamanya adalah penguasa negeri-negeri muslim sudah kehilangan jatidiri sebagai umat Islam. Mereka lebih mencari aman dengan menjadi ‘budak’ Barat daripada berjuang untuk kemerdekaan Palestina. [Mh]