DI ANTARA akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam adalah menghormati orang yang lebih tua. Menghargai usia, mendahulukan adab dibandingkan kepentingan pribadi, serta bersikap santun kepada lansia merupakan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Salah satu kisah yang sering diceritakan dalam kitab-kitab hikmah adalah peristiwa yang dialami oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika hendak menunaikan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW.
Suatu pagi, Sayyidina Ali berjalan dengan tergesa-gesa menuju masjid. Saat itu waktu Subuh hampir habis, sehingga beliau mempercepat langkah agar masih dapat mengikuti shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW. Namun di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua yang berjalan sangat pelan.
Baca Juga: Tsabit bin Dahdah, Sahabat yang Menukar Kebun Terbaiknya dengan Balasan Surga
Kisah Ali bin Abi Thalib yang Memuliakan Seorang Lansia, Pelajaran Indah tentang Akhlak dan Adab
Sebagai seorang pemuda yang sehat, tentu sangat mudah bagi Ali untuk mendahului langkah orang tua tersebut. Akan tetapi, beliau memilih berjalan perlahan di belakangnya. Bukan karena tidak mampu mendahului, melainkan karena menghormati usia orang yang sudah renta. Dalam pandangan Ali, memuliakan orang tua adalah bagian dari akhlak yang diajarkan Islam.
Waktu terus berjalan. Matahari hampir terbit, sementara langkah sang kakek tetap lambat. Ali tetap bersabar mengikutinya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kesal. Ketika keduanya hampir sampai di depan masjid, ternyata orang tua itu tidak masuk ke dalam masjid. Barulah Ali mengetahui bahwa orang tersebut bukan seorang Muslim, melainkan seorang Nasrani.
Setelah itu, Ali segera memasuki masjid. Beliau mendapati Rasulullah SAW masih berada dalam posisi rukuk sehingga masih sempat mendapatkan satu rakaat shalat Subuh berjamaah. Seusai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa rukuk pada shalat Subuh hari itu terasa lebih lama daripada biasanya.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa ketika beliau hendak bangkit dari rukuk, Malaikat Jibril datang dan menahan beliau atas perintah Allah SWT hingga Sayyidina Ali tiba di masjid. Dalam sebagian riwayat disebutkan pula bahwa Allah memerintahkan Malaikat Mikail menahan terbitnya matahari sejenak agar Ali tidak kehilangan shalat Subuh berjamaah.
Terlepas dari status riwayatnya, pesan moral yang terkandung di dalamnya sangat berharga. Ali mengajarkan bahwa akhlak kepada sesama manusia tidak dibatasi oleh perbedaan agama. Selama seseorang adalah manusia yang patut dihormati, terlebih seorang lansia, maka Islam mendorong umatnya untuk bersikap santun dan penuh penghormatan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah mengetahui setiap amal baik yang dilakukan hamba-Nya, termasuk kebaikan yang mungkin tidak diketahui orang lain. Ali tidak bermaksud mencari pujian ketika memuliakan seorang lansia. Beliau hanya ingin menjaga adab yang telah diajarkan Rasulullah. Namun justru karena keikhlasannya, Allah memberikan pertolongan sehingga beliau tetap dapat mengikuti shalat berjamaah.
Dalam kehidupan saat ini, pelajaran tersebut tetap relevan. Di tengah kesibukan dan tuntutan waktu, sering kali kita tergesa-gesa hingga lupa bersikap santun kepada orang yang lebih tua. Padahal, menghormati lansia merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim yang mulia.
Semoga kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menginspirasi kita untuk selalu mendahulukan adab dalam setiap keadaan. Sebab, kemuliaan seseorang bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia dengan penuh hormat dan kasih sayang.
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.





