KETIKA kebanyakan orang sangat mencintai harta yang dimilikinya, para sahabat Rasulullah SAW justru memberikan teladan yang berbeda. Mereka memahami bahwa harta hanyalah titipan Allah yang suatu saat akan ditinggalkan.
Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah pengorbanan Tsabit bin Dahdah, yang lebih dikenal dengan kunyah Abu Dahdah Al-Anshari. Beliau rela menyerahkan kebun terbaiknya demi mengharap ridha Allah SWT. Pengorbanan itu menjadi bukti bahwa keimanan sejati mampu mengalahkan rasa cinta terhadap dunia.
Baca Juga: Kisah Zainab binti Khuzaimah yang Mengabdikan Hidupnya untuk Berbagi
Tsabit bin Dahdah, Sahabat yang Menukar Kebun Terbaiknya dengan Balasan Surga
Kisah ini bermula ketika Allah SWT menurunkan firman-Nya:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”
(QS. Al-Baqarah: 245)
Mendengar ayat tersebut, Abu Dahdah datang menemui Rasulullah SAW dengan penuh keyakinan. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Allah benar-benar meminta pinjaman dari kita?” Rasulullah SAW menjawab bahwa Allah memang mengajak hamba-Nya untuk berinfak di jalan-Nya, dan Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Jawaban Rasulullah membuat hati Abu Dahdah mantap. Tanpa ragu, ia berkata bahwa dirinya meminjamkan kebun terbaik yang dimilikinya kepada Allah. Kebun itu bukan kebun biasa. Di dalamnya terdapat sekitar enam ratus pohon kurma yang sedang produktif, rumah tempat tinggal, serta sumber air yang menjadi penopang kehidupan keluarganya. Dengan kata lain, kebun tersebut adalah harta paling berharga yang ia miliki.
Setelah menyampaikan niatnya kepada Rasulullah SAW, Abu Dahdah segera pulang. Setibanya di kebun, ia memanggil istrinya, Ummu Dahdah, dan berkata bahwa kebun itu telah ia sedekahkan di jalan Allah. Mendengar penjelasan suaminya, Ummu Dahdah tidak marah ataupun menolak. Sebaliknya, ia menerima keputusan itu dengan penuh keimanan. Bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan, ia mengeluarkan kurma yang sedang dimakan anaknya sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Melihat ketulusan pasangan tersebut, Rasulullah SAW memuji mereka. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi menggambarkan besarnya balasan yang Allah siapkan bagi Abu Dahdah di surga. Pujian itu menunjukkan bahwa sedekah yang diberikan dengan penuh keikhlasan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Kisah Abu Dahdah mengajarkan bahwa sedekah terbaik bukanlah memberikan sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan, melainkan menginfakkan harta yang paling dicintai. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 92 yang menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan sebagian harta yang dicintainya.
Pengorbanan Abu Dahdah juga memperlihatkan pentingnya dukungan keluarga dalam beribadah. Keimanan Ummu Dahdah menjadi teladan bahwa rumah tangga yang dibangun di atas keimanan akan saling menguatkan dalam menjalankan kebaikan. Tidak ada penyesalan ketika dunia ditukar dengan pahala yang dijanjikan Allah.
Di tengah kehidupan modern yang sering mendorong manusia untuk terus mengumpulkan harta, kisah Tsabit bin Dahdah menjadi pengingat bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang disimpan, melainkan apa yang diinfakkan di jalan Allah. Harta bisa habis, tetapi pahala sedekah akan terus mengalir hingga hari akhir. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.





