SETIAP manusia pasti pernah berada di titik ketika masalah terasa begitu berat. Ada hari-hari ketika beban hidup datang bertubi-tubi hingga membuat hati lelah dan pikiran dipenuhi kekhawatiran. Pada saat seperti itulah seseorang sering kali tanpa sadar membesarkan masalahnya sendiri. Ia merasa seolah ujian yang dihadapi terlalu besar untuk dilalui.
Padahal, sebagaimana pesan dalam postingan tersebut, seorang mukmin diajarkan untuk mengubah cara pandangnya. Jangan mengatakan, “Wahai masalah, betapa besarnya dirimu.” Sebaliknya, katakanlah, “Wahai masalah, aku memiliki Rabb yang jauh lebih besar darimu.” Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun ujian yang datang, kekuasaan Allah jauh melampaui segala persoalan manusia.
Baca Juga: Menyerahkan Segala Urusan kepada Allah Saat Jalan Terasa Buntu
Sebesar Apapun Masalah Andalkan Allah dalam Prosesnya
Allah juga mengajarkan doa yang sangat indah dalam Surah Al-Baqarah ayat 286. Ayat ini bukan hanya dibaca sebagai wirid, tetapi menjadi pengingat bahwa seorang hamba boleh memohon agar Allah meringankan beban yang sedang dipikul. Di dalam doa tersebut terdapat pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua ujian mampu dihadapi dengan kekuatan sendiri. Karena itu, pertolongan Allah menjadi kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Sering kali seseorang merasa cemas karena berusaha menyelesaikan semua persoalan sendirian. Ia sibuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk, mencari jalan keluar dengan kemampuan yang terbatas, hingga akhirnya merasa semakin tertekan. Padahal Allah tidak pernah meminta hamba-Nya memikul beban tanpa pertolongan-Nya. Justru Allah mengajarkan agar setiap kesulitan dikembalikan kepada-Nya melalui doa, tawakal, dan ikhtiar.
Mengingat kebesaran Allah akan membuat hati lebih tenang. Ketika seseorang menyadari bahwa Rabb yang menciptakan langit dan bumi juga mengatur hidupnya, maka perlahan rasa takut mulai berkurang. Masalah memang belum tentu langsung selesai, tetapi hati menjadi lebih kuat untuk menghadapinya.
Doa yang diajarkan dalam ayat tersebut juga mengandung kerendahan hati. Seorang mukmin mengakui bahwa dirinya memiliki kelemahan dan tidak sanggup menanggung segala sesuatu tanpa pertolongan Allah. Pengakuan seperti inilah yang justru membuka pintu rahmat-Nya. Allah menyukai hamba yang datang dengan penuh harap, bukan dengan kesombongan seolah mampu menghadapi semuanya sendiri.
Di sisi lain, doa tidak boleh dipisahkan dari usaha. Setelah memohon kepada Allah, seseorang tetap diperintahkan untuk melakukan ikhtiar terbaik. Jika sedang mencari pekerjaan, teruslah berusaha. Jika sedang menghadapi masalah keluarga, perbaikilah komunikasi. Jika sedang diuji kesehatan, lakukan pengobatan yang dianjurkan. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa tindakan, tetapi menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan usaha semaksimal mungkin.
Setiap ujian juga membawa pelajaran yang berbeda. Ada yang diuji agar lebih sabar, ada yang diuji supaya lebih bersyukur, dan ada pula yang diuji agar kembali mendekat kepada Allah setelah lama lalai. Karena itu, jangan hanya bertanya mengapa ujian datang, tetapi tanyakan pula hikmah apa yang ingin Allah ajarkan melalui ujian tersebut.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketika hati mulai dipenuhi rasa takut, bacalah doa yang diajarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286 dengan penuh penghayatan. Ingatkan diri bahwa tidak ada masalah yang lebih besar daripada kekuasaan Allah. Selama seseorang masih bersandar kepada-Nya, selalu ada harapan, selalu ada jalan keluar, dan selalu ada pertolongan yang datang pada waktu terbaik menurut-Nya. Sebab, Rabb yang kita sembah jauh lebih besar daripada segala persoalan yang sedang kita hadapi.
Sumber: Ustadz Muhammad Assad





