ADA sebuah pemandangan yang selalu menghangatkan hati. Ketika kita melihat seorang anak berlari kecil menuju pelukan neneknya. Di sudut lain, seorang kakek dengan sabar mengajarkan cucunya mengayuh sepeda, mengikat tali sepatu, atau sekadar bercerita tentang masa kecilnya. Di balik momen-momen sederhana itu, sesungguhnya sedang tumbuh sesuatu yang sangat berharga: ikatan lintas generasi yang menguatkan keluarga.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, kehadiran kakek dan nenek sering kali menjadi anugerah. Banyak keluarga bergantung pada mereka, baik untuk membantu mengasuh cucu ketika orang tua bekerja, menemani anak-anak sepulang sekolah, maupun menjadi tempat pulang ketika keluarga sedang menghadapi kesulitan. Peran ini dikenal sebagai grandparenting, yaitu keterlibatan kakek dan nenek dalam proses pengasuhan dan tumbuh kembang cucu.
Baca Juga: Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Fermentasi, Apa Saja Risikonya bagi Kesehatan?
Membangun Ketahanan Keluarga Melalui Kakek dan Nenek
Namun grandparenting bukan sekadar “menjaga cucu”. Ia adalah proses mewariskan kasih sayang, nilai kehidupan, keteladanan, serta rasa memiliki terhadap keluarga. Di sinilah ketahanan keluarga sering kali menemukan akarnya.
Ketahanan tangguh adalah keluarga yang mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi perubahan maupun krisis. Dalam banyak keadaan, kehadiran kakek dan nenek menjadi salah satu sumber daya keluarga yang sangat penting.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan kakek dan nenek dapat memberikan banyak manfaat. Mereka dapat membantu mengurangi beban pengasuhan orang tua, memberikan dukungan emosional, menjadi sumber pengalaman hidup, bahkan memperkuat hubungan antargenerasi. Pada keluarga yang memiliki kerja sama pengasuhan yang baik, keterlibatan kakek dan nenek terbukti membantu menurunkan stres pengasuhan ibu dan memperkuat kualitas pengasuhan secara keseluruhan.
Bagi anak, hubungan yang hangat dengan kakek dan nenek menghadirkan rasa aman yang berbeda. Mereka menemukan sosok yang sabar mendengar, lebih banyak bercerita, dan sering kali memiliki waktu yang lebih lapang. Dari merekalah anak belajar tentang sejarah keluarganya, perjuangan hidup, kesederhanaan, kesabaran, serta nilai-nilai yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.
Namun demikian, grandparenting juga memiliki tantangan. Tidak sedikit kakek dan nenek yang akhirnya menjadi pengasuh utama karena perceraian, kemiskinan, migrasi orang tua, atau berbagai persoalan keluarga lainnya. Beban pengasuhan yang terlalu berat justru dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa ketika kakek-nenek menjadi pengasuh utama dalam jangka panjang tanpa dukungan yang memadai, mereka lebih rentan mengalami kelelahan, tekanan emosional, bahkan penurunan kesehatan.
Penelitian lain juga mengingatkan bahwa pengasuhan oleh kakek-nenek tidak otomatis menghasilkan dampak positif ataupun negatif. Hasilnya sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga, kualitas hubungan orang tua dengan kakek-nenek, alasan mengapa anak diasuh oleh mereka, serta dukungan yang tersedia. Karena itu, yang perlu dibangun bukanlah pengalihan tanggung jawab pengasuhan, melainkan kolaborasi pengasuhan.
Di sinilah letak kebijaksanaan sebuah keluarga. Orang tua tetap menjadi pengasuh utama. Kakek dan nenek bukan pengganti ayah dan ibu, melainkan mitra yang memperkaya proses pengasuhan. Ketika nilai yang diajarkan sejalan, komunikasi terbuka terbangun, dan keputusan-keputusan penting dibicarakan bersama, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang konsisten dan penuh kasih. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti





