KISAH Fatimah binti Hubaisy menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk bertanya, belajar, dan memperoleh penjelasan agama secara langsung. Dari dirinya, umat Islam mendapatkan pelajaran penting mengenai hukum bersuci, shalat, dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah meski sedang menghadapi ujian.
Fatimah binti Hubaisy mengalami kondisi yang dalam fikih disebut istihadhah, yaitu keluarnya darah dari rahim yang bukan termasuk darah haid. Kondisi tersebut membuatnya bingung dalam menentukan kapan harus meninggalkan shalat dan kapan harus tetap melaksanakan ibadah. Karena ingin memastikan ibadahnya benar, ia mendatangi Rasulullah untuk meminta penjelasan.
Dengan penuh kelembutan, Rasulullah menjelaskan bahwa darah istihadhah berbeda dengan darah haid. Beliau bersabda agar Fatimah meninggalkan shalat hanya ketika masa haid yang biasa ia alami telah tiba. Setelah masa haid selesai, ia diperintahkan mandi, kemudian tetap melaksanakan shalat meskipun darah istihadhah masih keluar.
Baca Juga: Shara Al-Ghanawi, Shahabiyah yang Mengajarkan Arti Kesetiaan kepada Islam
Mengenal Fatimah binti Hubaisy yang Menjadi Rujukan Hukum tentang Istihadhah
Hadis yang diriwayatkan dari Fatimah binti Hubaisy ini kemudian menjadi salah satu landasan penting dalam pembahasan fikih mengenai istihadhah. Para ulama menjadikannya sebagai rujukan dalam menjelaskan tata cara bersuci dan beribadah bagi perempuan yang mengalami kondisi serupa.
Sikap Fatimah binti Hubaisy patut menjadi teladan. Ia tidak membiarkan kebingungannya berlarut-larut atau hanya mengandalkan dugaan. Sebaliknya, ia memilih mencari ilmu dari sumber yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kualitas ibadah membutuhkan ilmu, bukan sekadar kebiasaan.
Kisahnya juga mengajarkan bahwa ujian fisik bukan alasan untuk meninggalkan kedekatan kepada Allah. Meskipun mengalami kondisi yang tidak mudah, Fatimah tetap berusaha melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Ia justru semakin bersemangat mencari solusi sesuai tuntunan syariat.
Di masa sekarang, tidak sedikit perempuan yang mengalami gangguan siklus menstruasi atau kondisi medis tertentu. Kisah Fatimah binti Hubaisy menjadi pengingat agar setiap persoalan ibadah dikembalikan kepada ilmu dan petunjuk syariat. Bertanya kepada ulama atau tenaga ahli yang memahami hukum Islam merupakan langkah yang dianjurkan agar ibadah dilakukan dengan tenang dan benar.
Selain itu, Fatimah binti Hubaisy memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam periwayatan hadis. Melalui pertanyaan dan pengalaman yang ia sampaikan kepada Rasulullah, umat Islam hingga hari ini memperoleh penjelasan hukum yang sangat bermanfaat. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kontribusi para shahabiyah tidak hanya dalam mendukung dakwah, tetapi juga menjaga warisan ilmu Islam.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Fatimah binti Hubaisy mengingatkan bahwa setiap ujian dapat menjadi jalan untuk memperoleh ilmu dan kedekatan kepada Allah apabila disikapi dengan kesabaran. Ketulusannya dalam mencari jawaban serta ketaatannya mengikuti petunjuk Rasulullah menjadikannya teladan bagi setiap Muslimah.
Semoga semangatnya dalam menjaga ibadah, meski berada dalam kondisi yang sulit, dapat menginspirasi kita untuk selalu belajar, bertanya, dan berusaha menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.


