MESKIPUN kisah hidupnya tidak banyak tercatat dalam buku-buku sejarah, nama Busrah binti Shafwan radhiyallahu ‘anha tetap dikenang karena ilmu yang ia sampaikan menjadi rujukan para ulama hingga hari ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari banyaknya kisah yang terkenal, tetapi dari manfaat ilmu yang diwariskan.
Busrah binti Shafwan berasal dari kalangan Quraisy. Ia hidup di masa Rasulullah dan termasuk perempuan yang mendapatkan kehormatan berjumpa langsung dengan beliau. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk mempelajari ajaran Islam secara sungguh-sungguh, kemudian menyampaikannya kepada generasi setelahnya.
Salah satu hadis yang paling masyhur dari Busrah berkaitan dengan hukum wudu. Ia meriwayatkan sabda Rasulullah:
“Barang siapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudu.”
Hadis tersebut kemudian diriwayatkan oleh sejumlah imam hadis, seperti Imam Malik dalam Al-Muwaththa’, Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, hingga Ibnu Majah. Riwayat ini menjadi salah satu dalil penting yang dibahas para ulama dalam bab thaharah atau bersuci.
Baca Juga: Shara Al-Ghanawi, Shahabiyah yang Mengajarkan Arti Kesetiaan kepada Islam
Busrah binti Shafwan, Shahabiyah yang Mewariskan Ilmu Penting tentang Bersuci
Para ulama memang memiliki perbedaan pendapat dalam memahami hadis tersebut. Sebagian berpendapat bahwa menyentuh kemaluan secara langsung membatalkan wudu, sementara ulama lain memberikan rincian berdasarkan kondisi tertentu. Meski terdapat perbedaan ijtihad, semua sepakat bahwa hadis yang diriwayatkan Busrah memiliki kedudukan penting dalam kajian fikih.
Dari sini terlihat bahwa seorang perempuan juga memiliki peran besar dalam menjaga syariat Islam. Busrah bukan hanya menjadi saksi kehidupan Rasulullah, tetapi juga menjadi penyampai ilmu yang terus dipelajari sepanjang zaman.
Keutamaan Busrah tidak hanya terletak pada hadis yang ia riwayatkan. Ia juga dikenal sebagai sosok yang dapat dipercaya dalam meriwayatkan ilmu agama. Para ahli hadis menilai riwayatnya sebagai riwayat yang kuat sehingga dijadikan pegangan oleh banyak ulama fikih. Hal ini menunjukkan bahwa ketelitian, kejujuran, dan amanah merupakan sifat yang melekat pada dirinya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Busrah binti Shafwan memberikan pelajaran bahwa kontribusi seorang Muslim tidak harus selalu berupa kepemimpinan besar atau peristiwa heroik di medan perang. Menjaga ilmu, menghafal hadis, lalu menyampaikannya dengan penuh tanggung jawab juga merupakan amal yang sangat mulia.
Di era sekarang, semangat Busrah dapat diteladani dengan cara yang sederhana. Seorang Muslimah dapat menjadi pribadi yang gemar belajar agama, menghadiri majelis ilmu, membaca kitab-kitab para ulama, lalu menyebarkan ilmu yang benar kepada keluarga maupun masyarakat. Tidak sedikit orang memperoleh hidayah hanya karena satu ilmu yang disampaikan dengan ikhlas.
Selain itu, kisah Busrah juga mengingatkan pentingnya memperhatikan perkara-perkara yang tampak kecil dalam agama. Islam mengajarkan bahwa kebersihan dan kesucian merupakan bagian dari ibadah. Karena itulah, pembahasan mengenai wudu, tayamum, hingga adab bersuci mendapat perhatian yang sangat besar dalam syariat.
Warisan Busrah binti Shafwan mungkin hanya berupa beberapa hadis yang sampai kepada kita. Namun manfaatnya terus dirasakan selama berabad-abad. Setiap kali seorang Muslim mempelajari fikih bersuci berdasarkan hadis yang ia riwayatkan, pahala amal jariyahnya terus mengalir atas izin Allah. Inilah bukti bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu peninggalan terbaik yang tidak akan terputus meski seseorang telah tiada. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.



