SEJARAH Islam tidak hanya dipenuhi oleh kisah para sahabat laki-laki yang berjuang di medan perang. Di balik perjalanan dakwah Rasulullah SAW, terdapat banyak perempuan salehah yang memberikan kontribusi dengan cara yang berbeda. Sebagian menjadi pendidik, sebagian lagi menjadi perawat, penyokong dakwah, hingga pengorbanan mereka tercatat dalam berbagai kitab sejarah. Salah satu nama yang tidak banyak dikenal, tetapi termasuk dalam jajaran shahabiyah Rasulullah SAW, adalah Shara Al-Ghanawi.
Meski riwayat mengenai kehidupannya tidak sebanyak shahabiyah terkenal seperti Khadijah, Aisyah, atau Ummu Salamah, para ulama ahli sejarah tetap mencatat namanya sebagai perempuan yang hidup pada masa Rasulullah SAW dan menerima cahaya Islam. Kehadirannya menjadi bukti bahwa dakwah Nabi diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.
Baca Juga: Tuwailah binti Aslam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Mulia Rasulullah
Shara Al-Ghanawi, Shahabiyah yang Mengajarkan Arti Kesetiaan kepada Islam
Shara Al-Ghanawi berasal dari kabilah Ghani, salah satu kabilah Arab yang hidup pada masa kenabian. Pada masa itu, masyarakat Arab masih dipenuhi tradisi jahiliah yang jauh dari nilai-nilai tauhid. Kehadiran Islam membawa perubahan besar, termasuk bagi kaum perempuan yang sebelumnya sering dipandang rendah. Ketika dakwah Rasulullah mulai menyebar, Shara termasuk di antara mereka yang menerima ajaran Islam dengan penuh keimanan.
Keputusan memeluk Islam pada masa awal bukanlah pilihan yang mudah. Seorang muslim harus siap menghadapi tekanan dari keluarga, penolakan masyarakat, hingga ancaman kehilangan kedudukan sosial. Namun, seperti shahabiyah lainnya, Shara menunjukkan keteguhan hati dalam mempertahankan keyakinannya.
Riwayat tentang aktivitas sehari-hari Shara memang tidak banyak dijelaskan secara rinci. Akan tetapi, namanya tercantum dalam kitab-kitab biografi sahabat, yang menunjukkan bahwa ia termasuk perempuan yang hidup bersama generasi terbaik umat Islam. Hal ini menjadi kehormatan tersendiri karena tidak semua orang memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.
Salah satu pelajaran penting dari kisah Shara Al-Ghanawi adalah bahwa kemuliaan seorang muslim tidak selalu diukur dari banyaknya riwayat yang menceritakan dirinya. Ada banyak sahabat dan shahabiyah yang hidup dengan penuh keikhlasan tanpa mencari popularitas. Mereka lebih memilih menjadi bagian dari perjuangan Islam meskipun nama mereka tidak banyak dikenal generasi setelahnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam kehidupan modern, banyak orang berlomba-lomba mencari pengakuan atas setiap kebaikan yang dilakukan. Padahal, generasi sahabat justru mengajarkan bahwa amal terbaik adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Kemungkinan besar, inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari sosok Shara Al-Ghanawi.
Sebagai seorang perempuan muslimah, Shara juga menjadi bagian dari kelompok wanita yang mendukung perkembangan masyarakat Islam pada masa Rasulullah SAW. Kaum perempuan ketika itu memiliki peran penting dalam menjaga keluarga, mendidik anak-anak, menyampaikan ilmu, hingga memperkuat semangat para suami dan kerabat yang berjuang di jalan Allah.
Semoga kisah Shara Al-Ghanawi menjadi pengingat bahwa nilai seorang mukmin tidak ditentukan oleh seberapa terkenal namanya, melainkan oleh ketulusan iman dan amal salehnya. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan selalu bernilai di sisi Allah, meskipun tidak banyak diketahui manusia. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





