SETIAP manusia memiliki banyak rencana dalam hidup. Ada yang sedang membangun karier, menabung untuk membeli rumah, mempersiapkan pernikahan, atau merancang masa depan bersama keluarga. Kita terbiasa menyusun target demi target, seolah waktu yang kita miliki masih sangat panjang. Padahal, ada satu hal yang tidak pernah bisa dipastikan oleh siapa pun, yaitu kapan kehidupan ini akan berakhir.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan sebuah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 185 berbunyi, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” Ayat ini bukan sekadar pengingat, tetapi juga ajakan agar manusia tidak terlena oleh kehidupan dunia yang sementara.
Kematian bukan sesuatu yang jauh. Ia begitu dekat dengan setiap manusia. Tidak mengenal usia, jabatan, kekayaan, ataupun kondisi fisik. Ada yang dipanggil Allah ketika masih muda, ada pula yang diberi umur panjang. Semua telah ditentukan sesuai ketetapan-Nya.
Baca Juga: Berbagai Jenis Kacang dan Manfaatnya
Kematian Itu Pasti, Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal Terbaik?
Sering kali kita merasa kematian hanya akan datang kepada orang lain. Ketika mendengar kabar duka, hati memang tersentuh sesaat. Namun beberapa hari kemudian, kita kembali sibuk dengan urusan dunia hingga lupa bahwa suatu saat nama kitalah yang akan disebut dalam kabar duka berikutnya.
Tidak ada seorang pun yang mampu mengubah waktu yang telah Allah tetapkan. Secanggih apa pun teknologi, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, semuanya tidak dapat menunda datangnya ajal walau hanya sekejap. Karena itu, yang dapat kita lakukan bukanlah menghindari kematian, melainkan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Persiapan terbaik bukan hanya soal meninggalkan warisan berupa harta benda. Bekal yang paling berharga justru adalah amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia. Shalat yang dijaga, sedekah yang ikhlas, bacaan Al-Qur’an yang rutin, doa-doa yang dipanjatkan, hingga akhlak yang baik kepada sesama akan menjadi teman ketika semua yang kita miliki tertinggal di dunia.
Banyak orang menunda untuk berubah menjadi lebih baik karena merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih akan diberi kesempatan esok hari. Menunda taubat, menunda memperbaiki ibadah, atau menunda meminta maaf kepada orang lain adalah keputusan yang berisiko, sebab ajal tidak pernah datang dengan pemberitahuan.
Mengingat kematian bukan berarti membuat seseorang menjadi pesimis atau takut menjalani hidup. Justru sebaliknya, kesadaran bahwa hidup ini sementara akan membuat kita lebih bijaksana dalam menentukan prioritas. Kita akan lebih berhati-hati menjaga lisan, lebih mudah memaafkan, lebih ringan bersedekah, dan lebih semangat melakukan amal kebaikan karena sadar bahwa setiap kesempatan adalah nikmat yang belum tentu terulang.
Kita tetap diperintahkan untuk bekerja, mencari rezeki, belajar, dan meraih cita-cita. Namun semua itu sebaiknya dilakukan dengan niat yang benar dan tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga setiap hari yang Allah berikan menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki diri. Ketika saat itu benar-benar tiba, semoga kita dipanggil dalam keadaan husnul khatimah, membawa bekal terbaik untuk menghadap Rabb semesta alam. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan dipertanyakan, melainkan bagaimana kita mengisi kehidupan yang telah Allah titipkan. [DW]





