UTBAH bin Ghazwan berasal dari suku Quraisy dan termasuk orang-orang yang lebih dahulu memeluk Islam pada masa awal dakwah Rasulullah SAW. Keislamannya tidak datang di saat kondisi telah aman, melainkan ketika kaum Muslim masih menghadapi tekanan dan penyiksaan dari kaum musyrikin Makkah. Meski demikian, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Karena tekanan yang semakin berat, Utbah termasuk sahabat yang ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Hijrah tersebut menjadi salah satu bukti bahwa ia rela meninggalkan kampung halaman demi mempertahankan akidah. Setelah itu, ia kembali bergabung bersama Rasulullah SAW dan berhijrah ke Madinah untuk membangun masyarakat Islam yang baru.
Baca Juga: Khawlah binti Tsa’labah, Shahabiyah yang Keluhannya Diabadikan dalam Al-Qur’an
Utbah bin Ghazwan, Sahabat Nabi yang Memilih Kesederhanaan di Tengah Kemuliaan
Utbah bin Ghazwan juga dikenal sebagai salah satu pejuang yang selalu berada di barisan kaum Muslim dalam berbagai peperangan. Ia mengikuti Perang Badar, perang pertama yang menjadi titik penting kemenangan umat Islam. Keikutsertaannya dalam Perang Badar membuatnya termasuk dalam golongan sahabat yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Utbah dipercaya memimpin pasukan untuk memperluas wilayah Islam ke kawasan Persia. Salah satu pencapaian besarnya adalah mendirikan kota Basrah yang kini berada di Irak. Kota tersebut awalnya dibangun sebagai markas militer kaum Muslim, namun kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan peradaban Islam selama berabad-abad.
Meskipun memegang jabatan penting, Utbah tidak pernah hidup bermewah-mewahan. Ia justru dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana. Dalam salah satu khutbahnya yang terkenal, ia mengingatkan masyarakat agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Ia mengenang masa-masa awal bersama Rasulullah SAW ketika para sahabat harus bertahan hidup dengan makanan yang sangat sederhana. Baginya, kemudahan hidup yang datang setelah kemenangan Islam bukanlah alasan untuk mencintai dunia secara berlebihan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sikap zuhud tersebut membuat Utbah enggan mempertahankan jabatan gubernur dalam waktu lama. Ia bahkan meminta kepada Khalifah Umar agar dibebaskan dari amanah tersebut karena khawatir tidak mampu menjalankannya dengan sempurna di hadapan Allah. Permintaan itu menunjukkan betapa besar rasa tanggung jawab yang dimilikinya. Jabatan baginya bukanlah kehormatan, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam perjalanan kembali setelah menemui Khalifah Umar, Utbah bin Ghazwan wafat. Kepergiannya meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya memandang dunia. Kekuasaan, harta, dan kedudukan tidak membuatnya lalai dari tujuan utama kehidupan, yaitu mencari ridha Allah SWT.
Kisah Utbah bin Ghazwan mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya pencapaian duniawi, tetapi juga dari kemampuan menjaga hati agar tetap rendah hati dan ikhlas. Ia adalah contoh pemimpin yang bekerja keras, berani di medan perjuangan, namun tetap hidup sederhana dan tidak silau oleh kemewahan.
Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur kesuksesan dari materi, keteladanan Utbah bin Ghazwan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang hamba terletak pada ketakwaan, amanah, dan kesungguhannya dalam mengabdi kepada Allah. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Sahabat Rasulullah. Wulan Mulya Pratiwi. PT Elex Media Komputindo: 2021.





