KEMENANGAN Norwegia Atas Brazil yang Mengingatkanku pada Tadabbur Ali Imran 140, ditulis oleh Edgar Hamas (Gen Saladdin).
Aku menyadari satu hal bahwa di tahun 2022, bahkan Norwegia pun tak masuk dalam laga Piala Dunia di Qatar. Haaland hanya melihat dari kejauhan. Namun kali ini, Norwegia tampil segar, mencatatkan sejarah bagi negara mereka karena membawa The Vikings lolos ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Seorang kawan mengatakan, kemenangan ini mendongkrak posisi Norwegia secara drastis dalam ranking FIFA, melonjak 12 peringkat dari posisi 31 ke peringkat 19 dunia. Sementara bagi Brazil, kalah di babak 16 besar adalah catatan dan rekor terburuk Brasil di Piala Dunia sejak tahun 1990. Ada sebuah raksasa baru yang fresh dan menyita perhatian, sementara raksasa lama terduduk dan nampak letih.
Dan begitulah semua itu mengingatkan aku pada sunnatullah dalam kehidupan: yang berjaya ada titik nadirnya. Yang bukan siapa-siapa tak akan selamanya jadi anonim yang tak berpeluang. Semuanya berputar dalam siklus, yang sudah difirmankan Allah dengan indah, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran 140)
Ayat itu sedang membingkai peristiwa Uhud. Kekalahan kaum muslimin yang hanya berjarak 1 tahun dari kemenangan spektakulernya di Badar. Di situasi yang jatuh itu, Allah menghibur jiwa Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, bahwa jatuh dan bangun itu biasa. Selama menapak tanah, kalah dan menang itu dipergilirkan. Meski pada akhirnya kelak, di akhirat jelaslah mana yang menang dan mana kalah.
baca juga: Beberapa Alasan Norwegia Akui Palestina Sebagai Negara
Kemenangan Norwegia Atas Brazil yang Mengingatkanku Pada Tadabbur Ali Imran 140
Norwegia mungkin layak untuk kita tadabburi sebagai bentuk kebangkitan. Jika hanya mengandalkan Haaland, tentu tak bijak kita menyimpulkan. Ia adalah akumulasi dari ikhtiar yang jelas. Lihat saja, Pemerintah Norwegia memiliki regulasi unik yang disebut Children’s Rights in Sports, habitat yang diciptakan undang-undang agar anak-anak berfokus pada kegembiraan, bukan tekanan.
Anak-anak Norwegia berkembang tanpa stres mental akibat tuntutan juara sejak dini. Erling Haaland dan Martin Ødegaard adalah produk langsung dari sistem yang membiarkan mereka menikmati sepak bola sebagai “permainan” hingga usia remaja. Itu artinya ada intervensi dari usaha, yang kemudian bertemu dengan talenta luarbiasa.
Bahwa, sebuah kemenangan itu ada syaratnya. Dan kalah pun ada sebabnya. Sunnatullah siklus menang dan kalah, adalah pendidikan Allah bagi hamba-Nya untuk “akhdu bil asbab”, melakukan sebab terbaik yang membuat mereka layak. Dan di situlah, Allah beri kejayaan pada siapapun yang melangkah pada sebab dan ikhtiar itu.
Adakah umat ini telah melangkah di jalan kebangkitan yang benar?[ind]


