UMMU Syuraik berasal dari kalangan Quraisy. Sebelum memeluk Islam, ia hidup sebagaimana masyarakat Mekah pada umumnya. Namun setelah hidayah Allah menyentuh hatinya, kehidupannya berubah. Ia menerima ajaran Islam dengan penuh keyakinan, meskipun saat itu kaum Muslim masih menghadapi tekanan dan penyiksaan dari kaum musyrikin.
Berbeda dengan sebagian sahabat yang berdakwah secara terbuka, Ummu Syuraik memilih cara yang lebih bijaksana. Ia mendatangi rumah-rumah perempuan Quraisy secara sembunyi-sembunyi untuk mengajak mereka mengenal tauhid dan menyembah Allah semata. Ia memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membentuk keluarga. Jika seorang ibu memperoleh hidayah, besar harapan keluarganya juga akan mengenal Islam.
Aktivitas dakwah tersebut tentu bukan tanpa risiko. Pada masa itu, siapa pun yang diketahui memeluk Islam akan menghadapi ancaman, boikot, bahkan penyiksaan. Namun rasa takut tidak mampu menghentikan langkah Ummu Syuraik. Baginya, menyampaikan kebenaran adalah amanah yang harus dijalankan meskipun mengandung banyak pengorbanan.
Akhirnya, dakwah rahasia yang ia lakukan diketahui oleh kaum Quraisy. Mereka marah karena semakin banyak perempuan yang mulai mengenal ajaran Islam melalui dirinya. Ummu Syuraik kemudian ditangkap dan mengalami perlakuan yang sangat berat.
Baca Juga: Saudah binti Zam’ah, Ummul Mukminin yang Dikenal karena Kesederhanaan dan Keluhuran Akhlaknya
Kisah Ummu Syuraik, Shahabiyah Pemberani yang Menjadikan Rumahnya Tempat Dakwah Islam
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia dibawa keluar dari Kota Mekah menuju daerah yang panas dan tandus. Selama beberapa hari, ia tidak diberi makanan maupun minuman. Tubuhnya melemah karena kehausan yang luar biasa. Namun di tengah penderitaan itu, Ummu Syuraik tetap mempertahankan keimanannya dan tidak mau kembali kepada kekafiran.
Allah SWT kemudian menunjukkan pertolongan-Nya. Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah mengaruniakan air kepadanya sehingga ia dapat menghilangkan dahaga. Peristiwa tersebut membuat orang-orang yang menyiksanya terkejut. Mereka mendapati persediaan air mereka tetap utuh sehingga mustahil Ummu Syuraik mengambilnya. Sebagian di antara mereka akhirnya menyadari bahwa pertolongan tersebut datang dari Allah.
Setelah kondisi kaum Muslim semakin kuat, Ummu Syuraik turut berhijrah dan terus menjalankan kehidupannya sebagai seorang Muslimah yang taat. Rumahnya juga dikenal sebagai tempat singgah bagi para tamu Rasulullah dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sikap dermawan serta kecintaannya kepada dakwah tetap terlihat hingga akhir hayatnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Ummu Syuraik mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari atas mimbar atau di hadapan banyak orang. Mengajak satu orang kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana pun merupakan amal yang sangat mulia. Ia membuktikan bahwa seorang perempuan mampu menjadi bagian penting dalam penyebaran Islam melalui ilmu, akhlak, dan keberanian.
Selain itu, perjuangannya menunjukkan bahwa setiap ujian yang dihadapi di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia. Ketika manusia tidak mampu memberikan pertolongan, Allah memiliki cara yang tidak disangka-sangka untuk menolong hamba-Nya yang bersabar dan tetap istiqamah.
Di zaman sekarang, semangat Ummu Syuraik masih sangat relevan. Seorang Muslimah dapat berdakwah melalui keteladanan, pendidikan anak, tulisan yang bermanfaat, maupun nasihat yang lembut kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar untuk memberikan manfaat. Satu ajakan menuju kebaikan bisa menjadi sebab datangnya pahala yang terus mengalir. [DW]
Sumber: 39 Kisah Shahabiyah. Walidah Ariyani. Win Media: 2022.





