DALAM kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada dua keadaan yang menguras pikiran. Yang pertama adalah rasa khawatir terhadap masa depan, dan yang kedua adalah penyesalan terhadap masa lalu. Dua hal inilah yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hammun (kekhawatiran) dan hazanun (kesedihan). Tanpa disadari, keduanya dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan dan sulit menikmati nikmat yang sedang dimiliki.
Banyak orang menghabiskan waktunya memikirkan apa yang belum terjadi. Mereka cemas tentang pekerjaan, rezeki, kesehatan, pendidikan anak, atau berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu menjadi kenyataan. Di sisi lain, ada pula yang terus terjebak dalam kenangan masa lalu. Mereka menyesali kesalahan yang pernah dilakukan, kegagalan yang dialami, atau kesempatan yang telah berlalu.
Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk hidup lebih seimbang. Seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar menghadapi masa depan, mengambil pelajaran dari masa lalu, namun tetap hidup sepenuhnya di hari ini.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak rasa syukur. Ketika seseorang mulai menghitung nikmat yang Allah berikan hari ini, pikirannya akan lebih fokus pada karunia yang sedang dimiliki daripada terus memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi atau yang sudah tidak mungkin diubah.
Baca Juga: Membuka Pintu Maaf Artinya Membuka Jalan Pertolongan Allah
Ini Obat untuk Hati yang Dipenuhi Cemas dan Penyesalan
Kesehatan, keluarga, udara yang masih dapat dihirup, kesempatan beribadah, hingga rezeki sekecil apa pun merupakan nikmat yang sering kali luput dari perhatian. Padahal Allah mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, niscaya Dia akan menambah nikmat tersebut.
Selain memperbanyak syukur, Rasulullah SAW juga mengajarkan sebuah doa yang dapat diamalkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari rasa cemas dan sedih. Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa khawatir dan rasa sedih.”
Doa yang singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Seorang hamba mengakui bahwa ketenangan hati bukan hanya diperoleh melalui usaha pribadi, tetapi juga merupakan anugerah dari Allah. Karena itu, selain berikhtiar menyelesaikan berbagai persoalan hidup, seorang muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya.
Rasa cemas memang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, ketika kecemasan dibiarkan menguasai hati, seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan. Begitu pula dengan penyesalan. Terus-menerus mengingat kesalahan masa lalu tanpa diiringi taubat dan perbaikan diri hanya akan menguras energi dan menjauhkan seseorang dari semangat untuk menjadi lebih baik.
Islam mengajarkan bahwa masa lalu dijadikan pelajaran, bukan tempat tinggal. Masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar dan tawakal, sedangkan hari ini adalah kesempatan terbaik untuk memperbanyak amal saleh.
Oleh karena itu, biasakan mengawali hari dengan rasa syukur, memperbanyak doa, dan mempercayakan segala urusan kepada Allah SWT. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada-Nya, kekhawatiran akan berkurang dan kesedihan perlahan berganti dengan ketenangan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, dijauhkan dari hati yang dipenuhi kecemasan dan kesedihan yang berlebihan, serta senantiasa diberikan kekuatan untuk menjalani setiap hari dengan penuh harapan dan tawakal kepada-Nya. Aamiin. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Muhammad Assad





