SETIAP manusia tentu pernah mengangkat tangan dalam doa. Kita memohon kesehatan, rezeki yang halal, kemudahan urusan, keluarga yang bahagia, hingga akhir kehidupan yang baik. Namun, terkadang ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kesiapan hati untuk memaafkan orang lain.
Kita mungkin rajin beribadah, memperbanyak doa, dan berharap hidup dipenuhi cahaya keberkahan. Akan tetapi, jika hati masih dipenuhi dendam, kebencian, dan keinginan membalas kesalahan orang lain, maka hati itu belum benar-benar bersih.
Memaafkan memang bukan perkara yang mudah. Ada luka yang begitu dalam sehingga sulit dilupakan. Ada pengkhianatan yang meninggalkan bekas bertahun-tahun. Bahkan terkadang, setiap kali mengingat peristiwa itu, rasa marah kembali muncul seolah semuanya baru saja terjadi.
Baca Juga: Cara Mengatur Waktu untuk Ibu Rumah Tangga yang Bekerja
Membuka Pintu Maaf Artinya Membuka Jalan Pertolongan Allah
Ketika seseorang memilih memaafkan, bukan berarti ia membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti ia tidak lagi ingin hidupnya dikendalikan oleh rasa sakit yang terus dipelihara. Ia memilih melepaskan beban yang selama ini memenuhi dadanya agar hidupnya menjadi lebih ringan.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama. Sifat ini merupakan akhlak yang dicintai oleh Allah. Bahkan Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam sendiri menjadi teladan dalam memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya. Padahal, beliau memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi lebih memilih kasih sayang dan kelembutan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Betapa banyak manusia yang menangis di sepertiga malam, tetapi enggan menangisi kerasnya hati sendiri. Betapa banyak yang berharap pintu langit terbuka, sementara pintu taubat, pintu syukur, pintu kerendahan hati, dan pintu memaafkan masih ia kunci rapat-rapat.
Ketahuilah, bukan selalu karena Allah menahan pemberian-Nya. Terkadang Allah sedang menunggu hamba-Nya membuka apa yang selama ini ia tutup dalam dirinya.
Sebab rahmat Allah tidak sulit turun. Yang sering sulit adalah menemukan hati yang siap menerimanya.
Maka sebelum meminta Allah mengubah keadaan Anda, mintalah terlebih dahulu agar Allah melembutkan hati Anda. Karena ketika hati telah tunduk, yang sempit menjadi lapang, yang gelap menjadi terang, dan yang terasa mustahil menjadi jalan yang Allah bukakan dengan cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran.
Bukan langit yang tertutup. Sering kali, hati kitalah yang terlalu penuh oleh diri sendiri sehingga tidak lagi memiliki ruang untuk Allah. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz dr. Zaidul Akbar





