PERANG di Timteng antara Iran versus Israel dan AS berlangsung sekitar 40 hari. Ada hikmah dari peristiwa yang tidak diinginkan warga dunia itu.
Meski gencatan senjata yang diprakarsai Pakistan mengalami jalan buntu, tapi kini suasana lebih ‘dingin’ dari sebelumnya. Apa hikmah perang itu bagi umat Islam?
Satu, Umat Islam Harus Bersatu
Pasca runtuhnya Kekhalifahan Utsmani, umat Islam terpecah dalam banyak negara. Masing-masing negara punya batas, sistem, pemimpin, dan kepentingannya sendiri.
Secara umum, hal ini melemahkan umat Islam. Karena, masing-masing negara bisa diadu domba, disusupi musuh, dan dilemahkan dari dalam.
Ketika satu negara Islam dikeroyok dua negara kafir, kelemahan itu begitu terlihat. Tak satu pun negara Islam lain yang mau membantu. Meskipun jarak negara mereka begitu berdekatan atau bertetangga.
Padahal jika bersatu, kekuatan umat Islam bisa dioptimalkan untuk membela negara muslim yang sedang dijajah, seperti Palestina.
Dari sini pula terlihat bahwa umat Islam jangan lagi melihat perbedaan mazhab atau aliran, seperti sunni dan syiah. Karena hal itu suatu hal yang alami yang tidak mungkin diseragamkan, tapi bisa disatukan dalam satu barisan.
Dua, Kekufuran Itu Satu
Memang ada kepentingan di setiap negara untuk bersikap terhadap negara lain. Tapi, ketika menghadapi umat Islam, negara-negara kafir selalu bersatu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya kekufuran itu kelompok atau agama yang satu.” (HR. Ahmad)
Tidak heran jika dalam sejarah, umat Islam di Madinah di masa Nabi dikeroyok oleh banyak kelompok: Quraisy, Yahudi, suku-suku Arab yang musyrik. Peristiwa itu tercatat dalam Perang Ahzab atau Khandaq, Syawal tahun ke-5 Hijriyah.
Begitu pun yang dialami Kekhalifahan Usmani. Kekhalifahan terakhir ini bubar setelah diserang dari berbagai penjuru. Dan di antara penyerangnya adalah para adidaya saat ini.
Tiga, Negeri-negeri Muslim Lemah karena Wahan
Sudah terpecah-pecah, negeri-negeri muslim terjangkiti sebuah penyakit mental yang sangat kronis. Yaitu, penyakit wahan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengabarkan hal itu. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi: apa itu wahan?
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”
Apa yang disampaikan Nabi itu sudah terbukti. Umat Islam bukan sedikit. Umat Islam juga bukan tidak punya duit. Umat Islam juga bukan tidak punya kekuatan militer.
Umat Islam di seluruh dunia di akhir zaman ini umumnya karena gemar hidup mewah dan takut dengan risiko kematian. Mereka takut perang. Mereka takut diancam musuh.
Berapa jumlah umat Yahudi saat ini di seluruh dunia? Jumlahnya hanya sekitar 2 juta orang. Itu pun tersebar di banyak negara. Di antaranya, di Israel dan AS.
Berapa jumlah umat Islam saat ini? Data menunjukkan bahwa jumlah umat Islam di seluruh dunia pada tahun 2025 sekitar 2 miliar orang, atau seribu kali lipat dari umat Yahudi yang saat ini terus memusuhi umat Islam.
Empat, Musuh-musuh Islam itu Penakut
Dari masa Nabi hingga akhir zaman ini, keadaan musuh-musuh Islam tidak berbeda. Yaitu, mereka sangat penakut. Mereka hanya berani berperang dari balik benteng. Mereka juga hanya berani berperang melalui ‘tangan-tangan’ orang lain.
Tentang masalah senjata dan keterampilan militer, umat Islam bisa jauh lebih mumpuni dari orang-orang kafir. Dan yang terpenting, kekuatan jika ada di tangan umat Islam jauh lebih bermaslahat daripada di tangan orang-orang kafir.
Satu abad sudah terlewati sejak kejatuhan Kekhalifahan Islam Usmani. Rasanya, umat Islam harus bangkit. Harus bersatu. Dan harus menyadari, siapa musuh mereka dan siapa saudara mereka. [Mh]





