SEBAGIAN istri ada yang berpikir begini: “Suami harus berubah dulu, baru saya akan taat.” Sekilas terdengar adil. Tapi jika ditimbang dengan logika dan ajaran Islam, cara berpikir ini justru bermasalah.
Pertama, standar “suami sempurna” itu tidak pernah ada. Tidak ada manusia tanpa kekurangan. Jika ketaatan digantungkan pada kesempurnaan pasangan, maka ketaatan itu pada hakikatnya tidak akan pernah terjadi. Karena syaratnya mustahil terpenuhi.
Kedua, ketaatan dalam Islam tidak bersyarat pada kesempurnaan objeknya, tapi pada melaksanakan perintah Allah.
Seorang istri taat kepada suami bukan karena suami selalu benar, tetapi karena Allah memerintahkan ketaatan dalam perkara yang ma’ruf. Dasar ketaatan adalah wahyu, bukan penilaian subjektif terhadap pasangan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketiga, menunda taat karena melihat kekurangan suami adalah bentuk inkonsistensi moral.
Kita semua ingin dimaklumi ketika salah. Tapi jika kita menjadikan kesalahan pasangan sebagai alasan untuk tidak menjalankan kewajiban, itu berarti kita menerapkan standar ganda.
Istri ingin dipahami ketika ia punya kekurangan, tapi enggan memahami ketika suami punya kekurangan.
Keempat, hubungan sebab-akibat dalam rumah tangga sering terbalik.
Banyak yang mengira jika suami baik maka istri akan taat.
Padahal sering kali yang terjadi justru jika istri taat, maka suami senang dan ridho. Lalu suami akan berubah lebih baik.
Kelima, ketaatan punya batas yang jelas, yaitu hanya dalam hal yang ma’ruf.
Islam tidak memerintahkan ketaatan kepada suami untuk bermaksiat atau melakukan kezaliman. Jadi perintah taat bukan untuk membenarkan semua sikap suami, tetapi untuk menegaskan bahwa selama dalam koridor kebaikan, ketaatan tetap berlaku meski suami belum ideal.
Jangan Menunggu Suami Lebih Baik, Baru Taat
Keenam, menjadikan kesempurnaan pasangan sebagai syarat taat berpotensi merusak struktur rumah tangga. Jika masing-masing pihak menunggu yang lain berubah dulu, maka yang terjadi adalah stagnasi. Tidak ada yang memulai perbaikan. Rumah tangga berubah menjadi arena saling menuntut, bukan ladang amal.
Akhirnya, perlu dipahami dengan jernih bahwa ketaatan bukan hadiah untuk suami yang sempurna. Ketaatan adalah ibadah seorang istri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan seperti ibadah lainnya, ia justru bernilai ketika dijalankan dalam kondisi yang tidak ideal.
Jadi, bukan menunggu suami menjadi lebih baik, tetapi bagaimana tetap taat dalam batas syariat sambil terus berikhtiar, menasihati suami dengan hikmah, dan berdoa. Karena di situlah letak kedewasaan iman seorang istri: tetap menjalankan yang benar, meski keadaan belum sempurna.
Baca juga: Bekal Suami Istri dalam Membangun Keluarga
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471)
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251).[Sdz]
Sumber: Madrasatuna





