KEHIDUPAN manusia tidak pernah lepas dari rangkaian ujian yang silih berganti, baik dalam bentuk kesulitan, kehilangan, maupun penantian panjang atas sebuah harapan.
Dalam perspektif keimanan, setiap ujian bukan sekadar beban, melainkan proses pembentukan diri yang menguatkan kesabaran dan keteguhan hati.
Dari sinilah lahir keyakinan bahwa kemenangan sejati tidak hadir secara instan, melainkan melalui perjuangan dan ketekunan dalam menghadapi setiap cobaan.
Prinsip inilah yang menjadi landasan penting dalam memahami makna “kemenangan itu setelah ujian,” sebuah pesan yang mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan selalu tersimpan kemudahan yang menanti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ }
Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. [Surat Al-Baqarah: 214]
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Imam Al Qurthubi mengatakan, menurut Qatadah dan As Suddi dan umumnya ulama ayat ini menceritakan situasi saat perang Khandaq yg begitu sulit, cuaca panas dan dingin, dan berbagai ujian lainnya.
Sebagian lain mengatakan perang Uhud, segolongan ulama ada pula yang mengatakan ayat ini ttg kaum Muhajirin ketika meninggalkan negeri dan harta mereka. (Tafsir Al Qurthubi, jilid. 3, hal. 32-33)
Ustaz Farid Nu’man Hasan menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan penempaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada semua Rasul dan pengikutnya dari masa ke masa; yaitu ujian dan goncangan. Agar layak bagi mereka menyandang generasi pilihan, pemenang, dan ahlul jannah.
Syahidul Islam, Sayyid Quthb Rahimahullah mengatakan:
هكذا خاطب الله الجماعة المسلمة الأولى ، وهكذا وجهها إلى تجارب الجماعات المؤمنة قبلها ، وإلى سنته – سبحانه – في تربية عباده المختارين ، الذين يكل إليهم رايته ، وينوط بهم أمانته في الأرض ومنهجه وشريعته . وهو خطاب مطرد لكل من يختار لهذا الدور العظيم . .
وهذا الانطلاق هو المؤهل لحياة الجنة في نهاية المطاف . . وهذا هو الطريق . . هذا هو الطريق كما يصفه الله للجماعة المسلمة الأولى ، وللجماعة المسلمة في كل جيل .
هذا هو الطريق : إيمان وجهاد . . ومحنة وابتلاء . وصبر وثبات . . وتوجه إلى الله وحده . ثم يجيء النصر . ثم يجيء النعيم . .
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada kelompok Muslim generasi pertama, dan dengan cara inilah Allah mengarahkan mereka kepada pengalaman-pengalaman kaum beriman sebelumnya, mengarahkan kepada sunnah-Nya dalam mendidik hamba-hamba pilihan-Nya, yang dipercayakan kepada mereka dengan bendera-Nya, dan yang ditugaskan menjaga amanah-Nya di bumi, serta dengan syariat dan petunjuk-Nya. Ini adalah arahan yang berlaku bagi siapa pun yang dipilih untuk melaksanakan peran besar ini.
Kemenangan Itu Setelah Ujian
Inilah titik tolak yang mengantarkan pada kehidupan surga pada putaran akhirnya. Inilah jalannya.
Inilah jalan yang digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kelompok Muslim pertama dan bagi setiap generasi Muslim.
Inilah jalan itu: iman dan jihad… Ujian dan cobaan…. Kesabaran dan keteguhan… Totalitas dalam fokus kepada Allah semata…. Kemudian datanglah kemenangan … dan kemudian menyusul datangnya kenikmatan. (Fi Zhilalil Quran, jilid. 1, hal. 197-198)
Kemenangan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala simpan untuk orang-orang yang memang meyakininya dan berhak menerimanya.
Pertanyaan dalam ayat ini “mataa nashrullah” (kapankah datangnya pertolongan Allah), bukan bermakna keraguan atas datangnya pertolongan, tapi mereka menginginkan disegerakan datangnya pertolongan. Berkata Al Qurthubi:
Baca juga: Antara Ujian Dunia dan Ujian Akhirat
وَيَكُونُ ذَلِكَ مِنْ قَوْلِ الرَّسُولِ عَلَى طَلَبِ استعجال النصر لا على شك وارتياب
Maksud dari perkataan Rasul tersebut adalah meminta percepatan pertolongan bukan karena ragu dan bimbang. (Tafsir Al Qurthubi, jilid. 3, hal. 35)
Dan tidak ada yang berhak menerima kemenangan kecuali orang-orang yang tetap tsabat (kokoh dan tegar) sampai akhir perjuangan, setelah digoncang ujian berat dalam perjalanannya
Tidak ada yang berhak menerimanya kecuali orang-orang yang memang meyakini tidak ada pertolongan dan kemenangan kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bukan dari selain-Nya.
Inilah tabiat kehidupan tabiat perjuangan dalam dakwah dan jihad serta karakter para pemenang; tetap tegar di atas jalan perjuangan, kuat, meyakini pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hanya berharap kemenangan kepada-Nya.[Sdz]





