KETIKA Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, kesedihan menyelimuti umat Islam, dan kebingungan melanda mereka.
Orang yang paling jujur di antara umat ini berdiri di masjid untuk menjelaskan masalah tersebut.
Pada hari itu, Abu Bakar menyampaikan perkataannya yang terkenal:
“Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak mati!”
Berdasarkan perkataan Abu Bakar, dan dengan analogi kepadanya, saya ingin menyatakan kepada umat:
“Wahai manusia, siapa yang menyembah bulan ramadan, maka bulan ramadan telah berakhir. Tetapi siapa yang menyembah Allah, maka Allah adalah Tuhan semua bulan!”
Saya tidak menyukai keputusasaan dan demoralisasi. Saya lebih suka fokus pada aspek positif dari situasi ini, terkadang sampai mengalihkan perhatian saya dari hal negatif.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Saya lebih suka menyalakan lilin, karena dalam situasi ini, mengutuk kegelapan adalah sia-sia!
Penerimaan umat Islam terhadap bulan yang dipilihkan Allah bagi mereka sungguh menghangatkan hati dan membawa ketenangan pikiran!
Pemandangan barisan panjang jamaah shalat Subuh sungguh menyenangkan mata dan menenangkan hati bahwa umat ini mungkin sakit, tetapi tidak mati, dan sungguh Allah menghadirkan satu bulan di setiap tahun untuk menghidupkan kembali apa yang telah mati di dalamnya sepanjang tahun!
Pemandangan masjid yang penuh sesak dengan jamaah saat shalat Tarawih adalah sumber kegembiraan dan kebahagiaan!
Pembicaraan orang-orang tentang khataman Al-Quran, satu khataman demi satu khataman, sungguh menggembirakan!
Menjadikan Semua Bulan adalah Ramadan
Partisipasi anak-anak dalam perlombaan hafalan Al-Quran di bulan Ramadan menunjukkan bahwa benih masa depan umat ini baik-baik saja dan suatu hari nanti akan tumbuh dan berbuah!
Pertukaran makanan antar tetangga adalah ritual cinta dan harmoni, bukan sekadar kebiasaan kuliner!
Banyaknya sedekah dan kepedulian yang ditunjukkan kepada kaum miskin adalah tanda-tanda saling membantu!
Tetapi yang tidak saya mengerti adalah mengapa kita tidak membawa akhlak dan ibadah Ramadan bersama kita sepanjang tahun?
Mengapa shalat Subuh begitu banyak jamaah selama sepuluh hari terakhir Ramadan, sementara di hari-hari pertama Syawal, shaf pertama hampir tidak terisi?
Mengapa kita memperlakukan Al-Quran sebagai kitab untuk satu bulan, bukan kitab untuk sepanjang tahun?
Mengapa kita tidak mencari orang miskin sepanjang tahun?
Mengapa kita tidak memberi tetangga kita makanan di bulan Rabi’ul Awwal, Juni, atau Desember?
Mengapa dorongan untuk menghafal surah-surah Al-Quran berhenti atau memudar setelah Ramadan?
Baca juga: Delapan Ide Menginspirasi Resolusi Pasca Ramadan
Mengapa tidak dilakukan perlombaan menghafal sepanjang tahun?
Mengapa kita tidak ingat bahwa Ramadan adalah bulan jihad dan futuhat (penaklukan), dan bahwa tidak dapat diterima, secara agama, budaya, dan moral, jika Gaza dihancurkan di depan mata kita sementara kita hanya berdiam diri, sementara para pembunuhnya merasa aman dari kehadiran kita dan tidur nyenyak, mengetahui bahwa dukungan kita terbatas pada doa dan boikot?
Ramadan datang untuk menjadi ruh di dalam jasad umat, jangan sampai bagian kita di dalamnya hanya berebut membayar zakat fiitrah sementara darah Gaza mengalir di depan mata kita.
Jika kamu mengeluarkannya berupa makanan, memang mereka lapar; jika kamu mengeluarkannya berupa uang, memang mereka membutuhkan.
Dan saya memberanikan diri mengatakan: Jika kamu memberikannya berupa peluru, itu juga dibolehkan!
Penghormatan terhadap bulan Ramadan, penunaian kewajibannya melalui shalat, puasa, tilawah Al-Quran, dan sedekah, sungguh luar biasa dan menggembirakan.
Umat yang menghargai bulan ini dengan cara ini, dan tidak mengabaikannya seperti umat-umat sebelumnya, adalah umat yang layak untuk kembali kepada kejayaannya sebagai pemimpin umat manusia, membawa panji peradaban dan kemanusiaan seperti yang telah dilakukannya selama berabad-abad!
Namun, umat ini tidak akan mendapatkan kembali tempatnya yang seharusnya sampai membawa semangat Ramadan bersamanya ke sepanjang tahun.
Maka jadilah manusia-manusia robbani, bukan hanya taat di bulan Ramadan!
[Sdz]
Kontributor: Adham Syarqawi





