SEPULUH malam terakhir bulan Ramadan merupakan periode yang sangat penting dalam tradisi Islam.
Dalam berbagai riwayat hadits, dijelaskan bahwa pada waktu ini umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, serta mendekatkan diri kepada Allah.
Malam-malam tersebut juga diyakini mengandung Lailatul Qadr, yaitu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Berikut rangkuman sejumlah hadits dilansir dari aboutislam, yang menjelaskan keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
1. Peningkatan Ibadah pada Sepuluh Malam Terakhir
Aisyah meriwayatkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir Ramadan tiba, Nabi Muhammad meningkatkan intensitas ibadahnya.
Beliau menghidupkan malam dengan shalat dan ibadah lainnya, membangunkan keluarganya, serta mempersiapkan diri untuk beribadah dengan lebih sungguh-sungguh.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Riwayat ini tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain dari Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya di bulan Ramadan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
2. Keutamaan Lailatul Qadr
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menjelaskan adanya satu malam di bulan Ramadan yang lebih baik daripada seribu bulan.
Siapa pun yang tidak mendapatkan keberkahan malam tersebut dianggap telah kehilangan kebaikan yang besar. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ibn Majah dan dinilai sahih oleh Al-Albani.
3. Anjuran Mencari Lailatul Qadr
Aisyah juga meriwayatkan sabda Nabi yang menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
4. Ibadah yang Dianjurkan pada Lailatul Qadr
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda: siapa saja yang melaksanakan shalat malam pada Lailatul Qadr dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Riwayat ini terdapat dalam Al-Bukhari dan Muslim.
Aisyah juga menanyakan kepada Nabi doa yang dianjurkan jika seseorang mengetahui datangnya Lailatul Qadr. Nabi kemudian mengajarkan doa:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni,”
yang berarti: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.
Riwayat ini terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi.
Simak Hadits-Hadits tentang Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
5. Keutamaan Shalat Malam
Dalam sebuah hadits, Aisyah menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah melaksanakan shalat malam dalam waktu yang sangat lama hingga kaki beliau mengalami pecah-pecah.
Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut padahal dosa-dosanya telah diampuni, Nabi menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Selain itu, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi menyatakan shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat wajib. Riwayat ini terdapat dalam Sahih Muslim.
6. Ibadah Bersama Keluarga
Beberapa hadits juga menekankan pentingnya menghidupkan malam dengan ibadah bersama keluarga.
Dalam riwayat Abu Dawud, Nabi mendoakan rahmat bagi seorang suami yang bangun malam untuk shalat dan membangunkan istrinya, serta bagi seorang istri yang melakukan hal yang sama kepada suaminya.
Riwayat lain menyebutkan bahwa jika pasangan suami istri bangun pada malam hari dan melaksanakan shalat dua rakaat bersama, maka keduanya akan dicatat sebagai orang-orang yang banyak mengingat Allah.
Baca juga: Hadits Palsu tentang Anjuran Maaf-Maafan Sebelum Ramadan
7. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah menyebutkan adanya waktu khusus pada setiap malam di mana doa seorang Muslim dapat dikabulkan oleh Allah, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
8. I’tikaf pada Sepuluh Malam Terakhir
Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad secara rutin melakukan i’tikaf—berdiam diri di masjid untuk beribadah—pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga beliau wafat.
Setelah itu, para istri beliau melanjutkan praktik tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi biasanya melakukan i’tikaf selama sepuluh hari setiap Ramadan.
Pada tahun wafatnya, beliau melakukannya selama dua puluh hari. Riwayat ini tercantum dalam Sahih Al-Bukhari.
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah seperti shalat malam, doa, dzikir, serta i’tikaf.
Selain itu, periode ini juga menjadi waktu untuk memperkuat ibadah bersama keluarga dan berupaya meraih keberkahan Lailatul Qadr, malam yang disebut memiliki keutamaan lebih baik daripada seribu bulan.[Sdz]





