MENJELANG datangnya bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan emosional. Salah satu bentuk persiapan yang sering ditekankan adalah membersihkan hati dari rasa dendam, marah, dan permusuhan antar sesama.
Dalam ajaran Islam, sikap saling memaafkan memiliki kedudukan penting karena berkaitan langsung dengan kualitas ibadah dan hubungan sosial.
Ketika Rasulullah sedang berkhotbah pada suatu Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jum’at para sahabat bertanya kepada Rasulullah, kemudian menjelaskan: “Ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah
amin-kan doaku ini”, jawab Rasulullah.
Do’a Malaikat Jibril adalah sebagai berikut: Yaa Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
– Tidak memohon ma’af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
– Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri;
– Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.
(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah RA)
Ini adalah hasits palsu, dibuat oleh orang tidak bertanggung jawab di masa medsos. Mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para ahli hadits.
Tidak jelas sumbernya, tidak ada di berbagai kitab primer hadits baik kitab Jami’, Shahih, Sunan, Musnad, dan Mu’jam.
Yang shahih adalah sebagai berikut.
Hadits Palsu tentang Anjuran Maaf-Maafan Sebelum Ramadan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku,
📌 ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’
📌 Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’
📌 Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””
Hadits ini diriwayatkan oleh:
– Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, No. 646
– Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 1888
– Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 8116
– Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8767
Baca juga: Alasan Ramadan sangat Penting bagi Umat Islam
Statusnya:
– Shahih, menurut Imam Ibnu Khuzaimah
– Jayyid (bagus), menurut Syaikh Muhammad Mushthafa Al A’zhami dalam tahqiqnya terhadap Sunan Ibni Khuzaimah
– Hasan shahih, menurut Syaikh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad No. 646
Inilah yang shahih.
Namun demikian, meminta maaf adalah perbuatan baik yang mutlak dan boleh dilakukan kapan pun. Baik bulan lalu, saat ini, atau besok, baik sebelum Ramadan, saat Ramadan, atau setelah Ramadan.
Dengan maraknya penyebaran hadits tentang anjuran maaf-maafan menjelang Ramadan, umat Islam perlu bersikap lebih kritis dan berhati-hati dalam menerima serta membagikan informasi keagamaan.
Memahami perbedaan antara hadits sahih dan hadits palsu menjadi penting agar ajaran Islam dipraktikkan berdasarkan sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sikap saling memaafkan tetap merupakan nilai mulia dalam Islam, namun landasannya hendaknya merujuk pada dalil yang sahih agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama.[Sdz]





