DUKUNGAN terhadap Palestina tidak hanya datang dari umat Islam, tetapi juga dari berbagai kalangan lintas agama dan negara.
Hal tersebut disampaikan Dr. Maimon Herawati, M.Litt., yang baru kembali dari rapat Steering Committee Global Sumud Flotilla di Tunisia.
Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar bertajuk “Apakah Hati Kita Masih Hidup untuk Palestina?” yang digelar di Cirebon, Sabtu (8/3/2026).
Menurut Dr. Maimon, solidaritas terhadap Palestina merupakan isu kemanusiaan yang melibatkan banyak pihak dari latar belakang berbeda. Ia menegaskan bahwa dukungan tidak hanya datang dari komunitas Muslim.
“Dukungan itu datang bukan cuma dari komunitas Muslim. Yang beragama Yahudi pun banyak yang mendukung Palestina, yang ateis pun ada. Cukup jadi manusia,” ujar Dr. Maimon dalam pemaparannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ia menceritakan pengalamannya bertemu sejumlah aktivis internasional yang turut menyuarakan solidaritas untuk Palestina.
Salah satunya adalah aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg. Dr. Maimon mengaku beberapa kali bertemu Greta saat konsolidasi aksi solidaritas.
Menurutnya, Greta tidak hanya menyuarakan dukungan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
Dalam pelayaran tersebut pada Oktober 2025, Greta sempat ditangkap oleh tentara Israel.
Bela Palestina Tak Butuh Agama, Solidaritas Datang dari Berbagai Kalangan
Dr. Maimon juga menyinggung kisah Rachel Corrie, aktivis kemanusiaan berusia 23 tahun yang meninggal dunia setelah dilindas buldoser militer Israel saat berusaha menghalangi penghancuran rumah warga Palestina di Rafah.
Ia menilai kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina dipandang oleh banyak pihak sebagai isu kemanusiaan global, bukan sekadar konflik agama.
Selain membahas solidaritas internasional, Dr. Maimon juga mengulas perkembangan situasi terbaru di Palestina.
Ia menyebut laporan terakhir masih menunjukkan terjadinya serangan militer di sejumlah wilayah Gaza sepanjang Februari hingga Maret.
Menurutnya, kondisi para pengungsi juga semakin memprihatinkan di tengah situasi yang disebutnya sebagai genosida yang belum berakhir, meskipun seharusnya sedang berlangsung gencatan senjata.
“Israel terus melanggar dan tetap menyerang Gaza,” katanya.
Di Kota Al-Quds atau Yerusalem, lanjutnya, pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa juga semakin ketat.
Baca juga: Global Sumud Flotilla Siap Kembali Berlayar di 2026
Masjid yang biasanya mampu menampung hingga 200 ribu jamaah tersebut kini mengalami pembatasan jumlah pengunjung pada waktu-waktu tertentu, disertai berbagai persyaratan usia dan akses bagi warga Palestina.
Dr. Maimon menilai isu Palestina tidak hanya berkaitan dengan konflik militer, tetapi juga menyangkut narasi sejarah, identitas, dan masa depan wilayah tersebut. Ia juga menyinggung perdebatan mengenai proyek keagamaan dan politik yang diangkat oleh sebagian kelompok Zionis, termasuk gagasan pembangunan “Third Temple” di kawasan Al-Quds.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya literasi publik mengenai isu Palestina di Indonesia.
Menurutnya, cara masyarakat menerima informasi dan pemberitaan internasional akan sangat memengaruhi persepsi terhadap konflik yang terjadi.
“Peran jurnalisme, riset, dan diskusi publik sangat penting agar masyarakat bisa melihat gambaran yang lebih utuh,” ujarnya.
Dr. Maimon juga mengingatkan adanya hubungan historis antara perjuangan Palestina dengan dukungan dari sejumlah tokoh dunia Muslim.
Sepanjang sejarah, banyak ulama dan tokoh Timur Tengah yang menyuarakan kemerdekaan Palestina melalui berbagai forum internasional, baik lewat jalur diplomasi maupun media.
Melalui forum tersebut, peserta diajak menyadari bahwa dukungan terhadap Palestina tidak hanya berbentuk aksi politik, tetapi juga solidaritas kemanusiaan.
Ia menilai masyarakat dapat berkontribusi melalui edukasi publik serta penyebaran informasi yang valid dan bebas dari propaganda.
Menurut Dr. Maimon, kesadaran masyarakat dunia, termasuk di Indonesia, menjadi salah satu kunci agar isu Palestina tetap mendapat perhatian global.[Sdz]





