ISTRI-istri Rasulullah memiliki keutamaannya sendiri. Ada yang rela dikurangi haknya demi untuk bisa selalu bersama Rasulullah.
Ada sosok istri kedua Rasulullah yang memiliki keutamaan sendiri. Namanya Sayidah Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha.
Saudah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang usianya lebih tua dari Nabi. Ia dinikahi Rasulullah setelah suaminya: Sakran bin Amr wafat. Peristiwa wafatnya itu terjadi setelah keduanya pulang dari hijrah ke Habasyah.
Sakran merupakan salah satu sahabat Rasul yang awal-awal masuk Islam. Pernikahan Saudah dengan Sakran membuahkan lima atau enam orang anak. Salah satunya yang terkenal di kemudian hari adalah Abdurrahman bin Sakran.
Setelah kematian Khadijah di Bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, pada bulan yang sama Rasulullah menikahi Saudah. Saat itu usia Saudah antara 55 hingga 60-an tahun.
Saudah bisa dibilang sebagai sosok ibu yang begitu apik merawat anak-anaknya. Termasuk sebagai ibu yang mendampingi dan merawat dua putri Nabi yang belum menikah: Ummu Kulsum dan Fatimah.
Tak lama setelah pernikahan itu, Rasulullah juga dibimbing Allah untuk menikahi Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tapi, Nabi baru tinggal serumah dengan Aisyah empat tahun kemudian, setelah Nabi hijrah ke Madinah.
Bisa dikira-kira, karakter Saudah itu ibu rumah tangga sejati. Orangnya supel dan senang humor. Fisiknya tinggi besar atau gemuk.
Ketika belum turun perintah hijab, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menyarankan ke Nabi agar istri-istri beliau mengenakan hijab. Termasuk, yang dimaksudkan Umar adalah Saudah.
Dan benar saja, Allah menurunkan perintah berhijab untuk istri-istri Nabi dan seluruh muslimah berkenaan dengan Saudah.
Pernah ada isu kalau Nabi akan menceraikan Saudah. Saudah pun menjumpai Nabi dan mengatakan, “Ya Rasulullah, saya berikan jatah hari saya untuk Aisyah, asalkan engkau tidak menceraikan saya!”
Tidak heran jika Aisyah dan Saudah begitu akrab. Keduanya kadang tinggal di rumah yang sama dan saling berinteraksi dalam canda ringan.
Suatu hari, Aisyah membuat kudapan sejenis bubur. Saat itu, di rumahnya ada Rasulullah dan Saudah. Rasulullah duduk di antara Aisyah dan Saudah.
Aisyah menyodorkan bubur itu ke Saudah untuk dicicipi. Tapi, Saudah menolak. Mungkin ia tidak begitu suka. Tapi, lagi-lagi Aisyah terus menyodorkannya.
Aisyah pun mengoleskan bubur itu ke wajah Saudah. Suasana menjadi begitu lucu. Rasulullah pun tertawa melihat itu.
Tiba-tiba, Rasulullah memberikan isyarat kepada Saudah untuk membalas ‘usilan’ Aisyah dengan juga mengoleskan bubur ke wajah Aisyah. Dan itu ia lakukan. Lagi-lagi, Rasulullah pun kian tertawa.
Setelah Nabi wafat, Saudah lebih fokus mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Khalifah Umar bin Khaththab pernah menghadiahkannya sekantong uang dirham. Uang itu langsung disedekahkan Saudah ke fakir miskin.
Saudah wafat di akhir masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab. Ia dimakamkan di Baqi, Madinah.
**
Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan kemuliaan kepada siapa yang Ia kehendaki. Meskipun, orang-orang menilainya sebagai orang biasa saja.
Selalulah menjadikan sikap sabar dan syukur sebagai dua sayap agar kita bisa terus terbang ‘tinggi’. Setinggi orang-orang yang telah Allah muliakan. [Mh]





