MASYARAKAT internasional kembali lakukan upaya untuk menembus blokade Gaza, kali ini aktivis pro-Palestina se-Asia Pasifik berkonsolidasi di Malaysia. Ratusan relawan, tenaga medis, jurnalis, hingga tokoh masyarakat dari berbagai negara berkumpul merencanakan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 bertajuk Breaking The Siege.
Misi kedua GSF ini dijadwalkan berangkat pertengahan tahun 2026. Indonesia secara terbuka menyatakan keterlibatan dengan mengirim delegasi.
Kemarin (05/01) telah dilaksanakan Diskusi Meja Bundar GSF 2.0 di Ummah Hall, Headquarter MAPIM, Malaysia.
Sebagaimana GSF sebelumnya, GSF 2.0 ini juga bertujuan membawa obat-obatan, air bersih, dan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina yang dikurung Israel di dalam Gaza.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dihadiri anggota Steering Committee atau Komite Pengarah GSF, termasuk Thiago Avila yang menyampaikan, “Berbagai usaha sudah ditempuh rakyat, mulai dari diplomasi, aksi damai, hingga perlawanan, tapi terus dipatahkan dan disalahkan, sementara struktur internasional bukannya menekan pihak penjajah, malah membuat kebijakan global yang mengabaikan hak warga Palestina.”
Selain Thiago, juga hadir Komite Pengarah lain, yakni Saif Abukesyek dan Kleoniki Alexopoulou.
Hadir pula Komite Pengarah perwakilan Indonesia, Dr. Maimon Herawati yang merupakan Direktur SMART 171 dan Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Global Sumud Flotilla Siap Kembali Berlayar di 2026
Ditanya soal efektivitas dana yang dikeluarkan untuk mobilisasi sipil sebesar ini, Saif menjawab, “Biaya untuk memecah blokade itu justru jauh lebih kecil dibandingkan nilai bantuan yang sengaja dihambat Israel. Bayangkan, ada ribuan truk bantuan yang tertahan dan membusuk di perbatasan selama bertahun-tahun, yang Israel lakukan adalah kejahatan global kepada banyak sumber daya.”
Kleoniki menekankan bahwa perjuangan untuk Palestina hari ini jadi wujud nyata membela kemanusiaan, karena sistem yang memungkinkan genosida di Palestina adalah sistem yang sama yang merusak demokrasi, kebebasan berekspresi, dan keadilan sosial di berbagai belahan dunia.
Baca juga: Pasukan Israel Serang Kapal Kemanusiaan Sumud Flotilla dengan Meriam Air
Diam terhadap Palestina berarti membiarkan masa depan umat manusia dirampas.
Diskusi Meja Bundar ini menandai awal perjalanan GSF 2.0 menembus blockade, meningkatkan kesadaran, memperkuat solidaritas lintas batas, dan menghubungkan suara kawasan Nusantara dengan perjuangan kemanusiaan global untuk Palestina.[Sdz]





