BERSEDEKAH dengan yang terbaik menunjukkan sempurnanya iman. Dan Allah akan menggantinya dengan yang terbaik pula.
Ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersedekah dengan harta yang paling ia cintai. Ia menyedekahkan sebuah kebun kurma dengan oase indah di dalamnya. Lokasi itu tepat di depan masjid.
Siapakah beliau? Ia bernama Zaid bin Sahl. Panggilannya Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Abu Thalhah lahir di Madinah, sekitar 15 tahun setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berasal dari suku Khazraj.
Ada kisah menarik selain sedekahnya. Ketika Islam datang ke Madinah sebelum kedatangan Nabi, Abu Thalhah belum muslim. Ia tertarik dengan seorang muslimah janda satu anak. Namanya Ummu Sulaim. Anaknya bernama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum.
Abu Thalhah menemui Ummu Sulaim dan menyatakan untuk melamarnya. Ummu Sulaim menjawab, “Aku rasa kau takkan sanggup memberikan mahar untukku.”
Mendengar jawaban itu, Abu Thalhah kian termotivasi. “Apa pun yang kau minta akan kuberikan. Di rumahku banyak emas dan perak. Kau boleh ambil sesukamu!” ucapnya.
Ummu Sulaim berujar, “Bukan itu yang aku inginkan. Aku sama sekali tak menginginkan hartamu.”
“Jadi?” ucap Abu Thalhah lagi.
“Aku hanya menginginkan keislamanmu. Itulah mahar yang kuinginkan!” jawab Ummu Sulaim.
Abu Thlahah pun menyanggupi. Ia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau masih di Mekah. Ia juga mengikuti baiat kepada Nabi bersama dengan pemimpin Madinah lainnya.
Hampir semua peperangan yang dipimpin Nabi diikuti oleh Abu Thalhah. Ada kisah menarik di Perang Uhud saat Nabi mengalami serangan bertubi-tubi dari pasukan musuh.
Abu Thalhah langsung menutupi tubuh Nabi dengan tubuhnya. “Ya Rasulullah, tetaplah diam. Biarlah tubuhku yang mereka lukai agar tubuhmu selamat,” ucapnya kepada Nabi.
Ketika Nabi wafat, Abu Thalhahlah yang menggali tanah kuburan Nabi. Letaknya tepat di bawah tempat tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ia hidup di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, begitu pun di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. Ia selalu mengikuti jihad bersama mereka.
Di akhir masa Kekhalifahannya, Umar bin Khaththab pernah mengatakan secara khusus kepada Abu Thalhah tentang mencari pengganti di kalangan Anshar.
“Silakan kau cari seratus dari kaum Anshar dan desak mereka untuk mau menjadi penggantiku!” ucap Umar.
Namun, hal itu tidak disampaikan Abu Thalhah kepada para sahabat. Ia hanya menunggu sampai dua hari, apakah akan ada penggantinya. Jika tidak ada yang terpilih, baru ia akan sampaikan.
Dan dalam sejarah, para sahabat memilih Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah selanjutnya.
Abu Thalhah wafat di masa kekhalifahan Usman bin Affan, sekitar tahun 34 hijriyah di usia 68 tahun. Khalifah Usman sendiri yang mengimami shalat jenazahnya.
**
Gemar bersedekah itu luar biasa di sisi Allah subhanahu wata’ala. Dan sangat luar biasa lagi jika yang disedekahkan adalah harta yang paling ia sukai.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya: Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran: 92) [Mh]





