DI pinggir padang pasir yang tandus, hiduplah seorang lelaki bernama Nuhair. la bukan ulama, ia juga bukan seorang hafizh.
Bahkan shalatnya saja sering terlambat karena ia harus mengangkat karung gandum orang lain demi sesuap roti.
Namun ada satu hal aneh tentang Nuhair. la tidak pernah berani mengangkat wajahnya ke langit ketika berdoa.
Jika orang berdoa sambil menengadah, sebaliknya Nuhair selalu menunduk. Jika orang berharap surga, sebaliknya Nuhair justru menangis takut neraka.
Seseorang pernah bertanya:
“Wahai Nuhair, kenapa engkau tidak meminta surga?”
la tersenyum pahit, lalu menjawab dengan suara bergetar:
“Aku malu…Tanganku masih kotor oleh dosa, tapi lisanku berani meminta istana.”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Setiap malam, ia hanya mengucapkan satu kalimat:
“Ya Allah… jangan ambil Engkau nyawaku sebelum Engkau mengampuniku.”
Hanya itu permintaannya….
Tidak minta kaya. Tidak minta bahagia. Tidak minta panjang umur, atau permintaan yang lain.
Suatu hari, Nuhair jatuh sakit. Tubuhnya kurus, matanya cekung, napasnya tersengal.
Orang-orang hanya melewatinya saja, tapi tidak ada yang berhenti. la miskin. Tidak penting bagi orang-orang.
Kisah Nuhair yang Tak Berani Meminta Surga
Malam terakhir hidupnya datang tanpa pemberitahuan. Di gubuk kecilnya, ia menggigil. Sajadah robek menjadi alas kepalanya. Lampu minyak hampir padam.
la mencoba berdiri untuk shalat, tapi kakinya tak mampu. Maka ia shalat sambil terbaring.
Saat sujud terakhir… air matanya jatuh membasahi tanah. Dengan suara hampir hilang, ia berbisik:
“Ya Allah…Jika aku terlalu hina untuk surga, maka jangan biarkan aku mati membawa dosa. Jika aku terlalu kotor untuk dekat, maka bersihkan aku dengan ampunan-Mu.”_
Dadanya bergetar hebat. la lalu berkata satu kalimat yang membuat langit berguncang :
“Aku datang tidak dengan membawa amal…Aku datang hanya membawa malu.”
Dan di situlah napasnya berhenti.
Baca juga: Merawat Persahabatan Dakwah
Keesokan pagi, orang-orang menemukan tubuhnya. Wajahnya tersenyum. Matanya basah oleh sisa air mata.
Seorang ulama tua yang melewati jenazahnya tiba-tiba menangis keras.
Murid-murid bertanya:
“Guru… mengapa engkau menangis?”
Ulama itu gemetar dan berkata:
“Tadi malam aku bermimpi… langit terbuka. Para malaikat turun membawa cahaya. Mereka berkata, ‘Hari ini Allah mengangkat seorang hamba yang datang tanpa amal besar, tapi membawa hati yang hancur karena takut kepada-Nya.”
Ulama itu melanjutkan dengan suara patah :
“Kalian sibuk menghitung pahala. Sedangkan ia sibuk menghitung dosanya. Dan justru ia yang dipanggil terlebih dahulu.”
Sejak hari itu, orang-orang yang melewati kuburan Nuhair sering merasakan dada mereka sesak tanpa sebab.
Seolah kubur itu berbisik:
“Jangan bangga dengan ibadahmu. Menangislah karena dosa-dosamu…”
[Sdz]
Sumber: Madrasatuna





