PERSAHABATAN dalam Islam begitu mulia. Bahkan, bisa lebih mulia dari persaudaraan keluarga.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling dekat dan paling lama ikatannya dengan Rasul adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Persahabatan itu terjalin kuat sejak kecil hingga akhir hayat mereka.
Nama aslinya Abdullah bin Usman. Nama Usman lebih dikenal dengan panggilan Abu Quhafah. Menjadi nama Abu Bakar karena ketika kecil beliau sering bermain dengan unta. Karena itulah beliau dipanggil Abu Bakar yang berarti kurang lebih penyayang unta. Persis seperti Abu Hurairah.
Sejak kecil, Abu Bakar kerap diajak kafilah dagang oleh ayahnya. Hal ini biasa di masyarakat Quraisy untuk mendidik anak-anak mereka menjadi pedagang.
Perdagangan waktu itu bukan hal biasa. Mereka harus menempuh jarak ratusan kilometer untuk bisa menjajakan dagangan mereka. Dan pulang dari sana, mereka berbelanja lagi untuk dijual di kampung halaman.
Ketika Abu Bakar berusia 10 tahun ia ikut kafilah dagang ke Syam. Dalam kafilah itu, juga ikut Rasulullah yang berusia 12 tahun lebih mendampingi pamannya: Abu Thalib. Usia Abu Bakar dan Rasulullah hanya selisih sekitar 3 tahun, lebih muda dari Rasulullah.
Begitu pun ketika Abu Bakar remaja di usia sekitar 19 tahun. Rasulullah juga berada di kafilah dagang itu. Keduanya kerap bersama di momen dagang, bermain, dan lainnya.
Perjalanan kafilah dagang bisa memakan waktu tiga bulanan atau lebih. Mereka berangkat bersama, berteduh bersama, menggelar dagangan di tempat yang sama, dan pulangnya pun bersama-sama.
Sikap anti berhala sudah dirasakan Abu Bakar sejak usia 10 tahun. Saat itu, ia ditinggal di dekat Ka’bah oleh ayahnya. Banyak berhala di sekitar bangunan Ka’bah.
Abu Bakar menghampiri salah satu berhala. “Aku lapar, berikan aku makanan,” ucapnya polos. Tapi, berhala yang diajak bicara diam saja. Karena kesal, Abu Bakar mendorong satu berhala hingga menimpa berhala lainnya.
Di salah satu momen dalam rombongan kafilah dagang, Abu Bakar kecil mengetahui ada pendeta yang mengatakan tentang masa depan Rasulullah sebagai Nabi. Saat itu, pendeta begitu takjub dengan sosok Rasulullah yang juga masih kecil.
Momen inilah yang begitu berbekas di hati Abu Bakar. Tidak heran jika di kemudian hari, Abu Bakar langsung bergabung dengan Rasulullah untuk masuk Islam.
Ketika Abu Bakar masuk Islam, sudah ada sekitar 50 orang yang sudah masuk Islam: laki dan perempuan. Dan dari beliau pula, rombongan pedagang besar ikut bersamanya masuk Islam. Di antara mereka ada Usman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash, dan lainnya.
Penyiksaan oleh kafir Quraisy juga dialami oleh para pedagang besar ini. Termasuk Abu Bakar. Ia pernah dipukuli karena ketahuan sudah masuk Islam.
Tidak heran jika Bilal bin Rabbah mengalami siksaan, Abu Bakar langsung membayar tebusan pembebasan. Nilainya sebesar 5 uqiyah emas. Satu uqiyah senilai 31,7 gram. Jadi sekitar 400 ratus jutaan rupiah.
Abu Bakar pula yang membiayai dan menemani Rasulullah hijrah ke Madinah. Dan setibanya di Madinah, Allah mentakdirkan Abu Bakar menjadi ayah mertua Rasulullah melalui pernikahan Nabi dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Hampir semua peperangan yang dipimpin Rasulullah, selalu diikuti Abu Bakar. Di beberapa peperangan lain, Rasulullah bahkan menugaskan Abu Bakar sebagai panglima. Dan, berhasil.
Ketika Rasulullah sakit keras, Abu Bakar yang diminta Nabi untuk mengimami shalat. Dan bisa dibilang, Abu Bakarlah sahabat dekat Nabi yang begitu tegar dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kalimat yang begitu membekas di kalangan sahabat dari Abu Bakar saat itu: siapa yang beribadah kepada Muhammad, ketahuilah bahwa beliau sudah mati. Dan siapa yang beribadah kepada Allah, Allah selalu hidup selamanya.
Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar diangkat umat Islam menjadi khalifah. Beliau memimpin umat tak lama, sekitar 2 tahun 77 hari. Beliau wafat di usia hampir sama dengan usia Nabi: hampir 63 tahun.
**
Indahnya persahabatan karena Allah. Saling mencintai karena Allah, dan saling membenci juga karena Allah. Bukan karena kepentingan sesaat.
Rawatlah persahabatan yang seperti itu. Sampai kapan pun, bahkan hingga ajal menjemput kita. [Mh]





