OMAN merupakan negara kesultanan yang aman dan makmur. Tak ada yang paling miskin dan tak ada yang paling kaya. Orang menjulukinya dengan ‘Muatiara Arab’.
Salah satu negara teluk yang lain dari yang lain adalah Oman. Negara seluas hampir seukuran pulau Sumatera ini menyajikan kelengkapan alamnya: ada padang pasir, gunung, pantai, dan dataran rendah yang cocok sebagai sebuah kota.
Negara Kaya yang Pura-pura Miskin
Oman memiliki sumber kekayaan minyak dan gas yang luar biasa. Dalam sehari, tersedia hampir satu juta barel minyak. Belum lagi penghasilan lainnya, seperti gas, perikanan, kurma, dan lainnya.
Bisa dibilang, inilah negara Timur Tengah yang nilai mata uangnya jauh di atas dolar Amerika. Satu rial Oman sebesar 3 dolar AS, atau setara hampir 45 ribu rupiah.
Namun begitu, jangan pernah membayangkan akan bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di sana, seperti di Arab Saudi atau tetangganya: Uni Emirat Arab.
Karena di Oman, ada peraturan yang melarang bangunan memiliki lebih dari 5 lantai. Termasuk gedung pemerintah sekali pun.
Satu lagi yang unik dari peraturan tentang syarat gedung atau rumah, yaitu warna catnya harus putih. Tidak boleh berwarna lain kecuali atas izin negara. Misalnya, masjid dengan ornamen warna-warni untuk memperindah hiasan.
Jika dilihat dari kejauhan, kota-kota di Oman seperti permukiman kampung yang bertolak belakang dengan negara tetangganya: Uni Emirat Arab yang glamour.
Selain itu, siapa pun yang datang ke Oman, harus menutup aurat secara wajar. Tidak boleh ada turis yang mengenakan celana pendek atau baju ‘you can see’.
Sebegitu makmur dan kayanya Oman, seluruh fasilitas publik gratis: sekolah, rumah sakit, dan lainnya.
Di Oman hampir tidak ada kendaraan umum. Hal ini karena setiap warganya dibuat mampu oleh negara untuk bisa membeli mobil.
Keadaan Penduduk
Meski negaranya hampir seluas Sumatera, tapi penduduknya begitu minim. Hanya 5 jutaan. Tidak heran jika Oman menjadi negara dengan kepadatan penduduk yang sangat jarang. Mereka tinggal berkelompok di kota-kota.
Mayoritas penduduk Oman beragama Islam. Cuma, mazhab di Oman agak berbeda dengan umumnya negeri Timteng lain. Tidak sunni, tidak juga syiah. Melainkan, mazhab ibadiyah.
Mazhab ini merupakan ‘sempalan’ dari paham Khawarij zaman dahulu. Tapi anehnya, meski berasal dari Khawarij, ideologinya justru bertolak belakang dari asalnya.
Ibadiyah begitu toleran. Tidak pernah memusuhi Islam Sunni, tidak juga Syiah. Bahkan, warga pendatang yang heterogen dari berbagai negara bisa menyatu dalam masyarakat mereka. Meskipun jumlah pendatang itu sebanyak 40 persen dari warga asli.
Bisa dibilang, Oman tidak memiliki musuh dari mana pun. Dari luar negeri, maupun dari dalam. Sebuah negeri yang begitu aman dan nyaman.
Meski begitu, secara resmi, Oman tidak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel seperti tetangganya: UEA. Meski begitu, hubungan baik dengan Amerika tergolong lancar.
Kaya dan Miskin
Prinsip keadilan dan kesetaraan di Oman begitu kuat. Hampir tidak ada pusat perbelanjaan mewah seperti mal. Yang ada, pasar-pasar tradisional. Hal ini menjadikan sekat-sekat yang kaya dan miskin tidak begitu terlihat.
Tingkat gaji di Oman lumayan tinggi. Gaji UMR di Oman sebesar 325 rial Oman per bulan. Atau, setara dengan 13 hingga 15 juta rupiah. Rata-rata penghasilan per rumah tangga di Oman sekitar 50 juta rupiah per bulan.
Bahkan untuk penduduk yang paling miskin sekali pun, mereka masih bisa memiliki rumah dan mobil. Tidak ada gelandangan atau pengemis di Oman.
Hal lain yang unik dari Oman dan ini yang membedakannya dengan negara Timteng lainnya, kehidupan warganya tidak eksklusif. Di tepi-tepian jalan, akan mudah ditemui warga yang berkumpul, ngopi bareng, dan lainnya.
Kaum perempuan juga diberikan hak yang sama dengan pria. Mereka boleh mengendarai mobil sendiri, punya hak suara, dan lainnya. Meski begitu, kehidupan wanita di Oman tidak glamour, meskipun mereka kaya.
Jika berminat datang ke Oman, siapkan dulu kocek yang memadai. Karena nilai 1 rial Oman berbeda dengan Saudi atau UEA yang hanya empat ribuan rupiah. Di Oman, 1 rialnya hampir senilai 45 ribu rupiah. Atau, sepuluh kali lipat dari 1 rial Saudi. [Mh]





