MUKMIN tidak mungkin pelit. Dan, orang pelit imannya pasti bermasalah. Karena pelit dan iman tidak bisa menyatu dalam satu hati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan bisa menyatu antara sifat pelit dan keimanan dalam hati seorang hamba selamanya.” (HR. An-Nasai dan Ahmad)
Karakter Seorang Mukmin
Seorang mukmin meyakini bahwa semua yang ia punya adalah anugerah Allah subhanahu wata’ala. Apa pun, termasuk dirinya sendiri.
Karena itu, sudah sepatutnya ia akan bersedia untuk ‘mengembalikan’ segala yang ia punya kepada pemilik aslinya: Allah subhanahu wata’ala.
Artinya, segala yang Allah perintahkan berupa mengorbankan rezekinya harus disambut dengan positif. Misalnya, ia terbiasa bersedekah, membayar zakat, infak, dan memberikan hadiah kepada tetangga dan sanak kerabat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasihati Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk rajin bersedekah, meskipun dalam keadaan susah. Nabi mengatakan, janganlah engkau menghitung-hitung sedekah agar Allah tidak ‘menghitung-hitung’ rezeki yang diberikan kepadamu.
Itulah yang selalu diamalkan Asma selama tinggal di Madinah. Apa yang terjadi? Meskipun awalnya ia hidup sangat minim: ala kadarnya, beberapa tahun kemudian, kekayaan suaminya mencapai triliunan rupiah, jika dirupiahkan.
Satu lagi, Allah memberkahinya dengan seorang putra yang begitu hebat dalam sejarah Islam, yaitu Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma.
Setan Menakut-nakuti dengan Pelit
Tak ada orang yang jatuh miskin karena rajin bersedekah. Hal ini sudah janji Allah bahwa akan ada balasan yang berlipat: di dunia dan akhirat.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah memberikan perumpamaan untuk mereka yang berinfak. Yaitu, balasan sebanyak 700 kali lipat.
Begitu pun dalam Surah Al-Hadid ayat 18 bahwa Allah akan melipatgandakan balasan untuk orang-orang yang bersedekah. Dan di akhirat, orang itu mendapatkan pahala yang mulia.
Tapi, kenapa ada rasa was-was, takut miskin, khawatir berkurang atau kehilangan kekayaan?
Hal ini tak lain adalah karena bisikan setan, selain memang manusia punya sifat cinta dengan harta. Padahal, ia pasti akan berpisah dengan harta, atau hartanya yang akan berpisah meninggalkannya.
Setiap kali akan bersedekah, setan akan sangat sibuk ‘menghalangi’. Setan menakut-nakuti dengan miskin, rugi, bangkrut, dan lainnya.
Kita dibuat lupa bahwa semua yang kita punya datang dari Allah. Allah Maha Kuasa mendatangkan dan berkuasa menghilangkan dari kita. [Mh]





