ANAK kecil merupakan bibit yang akan berbuah di kala besar. Jangan sepelekan potensi mereka.
Ketika awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, ada seorang anak kecil yang ingin sekali menetap di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bernama Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah, usia Zaid sekitar 11 tahun. Ia diantar ibunya ke rumah Nabi dan akhirnya tinggal di sana.
Ibunya bernama An-Nawar bin Malik. Ia memang warga Madinah. Tak jauh dari rumah di mana Rasulullah tinggal.
Kalau malam, Nawar kerap membawakan ke rumah Nabi berupa makanan. Nabi pun mendoakan keberkahan untuk Nawar dan keluarga.
Di saat Masjid Nabawi belum jadi, rumah Nawarlah yang menjadi tempat di mana Bilal mengumandangkan azan. Hal ini karena posisi rumahnya lebih tinggi dari yang lain.
Meski belum lama tinggal bersama Rasulullah, Zaid sudah menghafal 11 Surah Al-Qur’an. Saat itu, usianya masih 11 tahun.
Kemampuan hafalan dan kecepatan belajarnya memang sangat luar biasa. Biasanya, Zaidlah yang menuliskan surat-surat Rasulullah untuk dikirim ke pihak luar. Termasuk ke kaum Yahudi, dan lainnya.
Karena Rasulullah tak ingin suratnya diterjemahkan ke bahasa lain dan terjadi bias makna, Zaidlah yang akhirnya juga menuliskan surat dengan bahasa yang dituju. Karena itu, Zaid harus menguasai dua bahasa internasional saat itu: Ibrani dan Suryani.
Zaid mengaku, ia bisa menguasai bahasa Suryani dalam waktu 17 hari. Dan, bahasa Ibrani dalam waktu 15 hari. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa.
Ia pernah bersedih ketika Rasulullah tak mengizinkannya ikut dalam rombongan pasukan Perang Badar. Hal ini karena saat itu usianya baru 13 tahun.
Namun tiga tahun kemudian, Rasulullah mengizinkan Zaid ikut dalam Perang Khandaq. Usianya saat itu sekitar 16 tahun.
Dalam Perang Tabuk, Rasulullah sempat menggantikan posisi Zaid yang di depan dengan seorang sahabat lain. Sahabat Nabi itu bertanya, “Kenapa ya Rasulullah?”
Rasul menjawab, karena hafalan Al-Qur’an Zaid lebih banyak dari kamu.
Di masa Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengusulkan agar segera dilakukan penulisan Al-Qur’an. Hal ini karena banyaknya hafiz Al-Qur’an yang gugur dalam jihad.
Karena itu, Khalifah Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit. “Nak, kamu orang cerdas. Silakan kamu pimpin tim untuk membukukan Al-Qur’an!”
Dengan kerendahan hatinya, Zaid menolak. Ia merasa masih banyak tokoh lain yang jauh lebih mampu darinya. Tapi, Khalifah Abu Bakar tetap dengan perintahnya.
Mulailah Zaid dan timnya membukukan Al-Qur’an. Dan akhirnya tugas berat itu bisa selesai.
Pada tahun 45 hijriyah, Zaid wafat di usia sekitar 56 tahun. Putranya yang bernama Kharijah bin Zaid adalah salah satu dari tujuh ulama tabi’in di Madinah.
**
Anak kecil yang belum dianggap saat ini boleh jadi akan menjadi tokoh besar beberapa tahun ke depan. Jangan pernah sepelekan mereka.
Galilah potensi mereka. Tidak ada anak yang bodoh. Hanya kita, para orang tua dan pendidik, yang mungkin belum menemukan di mana potensi dan bakat mereka. [Mh]


