DALAM masyarakat modern, peran ayah kerap diukur dari seberapa sering ia hadir secara fisik di rumah. Ayah yang sibuk bekerja atau sering bepergian tidak jarang dianggap kurang berperan dalam pendidikan anak.
Namun, pandangan ini perlu ditinjau kembali dengan melihat contoh-contoh dari sejarah Islam yang menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak semata-mata ditentukan oleh intensitas kebersamaan secara fisik.
Salah satu contoh adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam berbagai riwayat, Nabi Ibrahim diceritakan tidak selalu bersama anak-anaknya dan bahkan hanya bertemu dalam rentang waktu yang lama.
Meski demikian, beliau berhasil mendidik putra-putranya, Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, hingga menjadi pribadi yang bertauhid kuat dan kelak diangkat sebagai nabi.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai keimanan, doa, serta keteladanan yang ditanamkan orang tua memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter anak.
Contoh lain datang dari kalangan tabi’in, yaitu Farrukh. Ia dikenal meninggalkan keluarga dalam waktu yang sangat lama untuk menuntut ilmu dan berjuang di jalan Allah.
Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Meski Jarang Berada di Rumah
Baca juga: Ayah Bunda, Ini 5 Love Language ke Anak yang Perlu Orang tua Ketahui
Meski jarang bertemu dengan anaknya, Rabi’ah ar-Ra’yi, hasil pendidikan yang ditinggalkan Farrukh terbukti kuat.
Rabi’ah tumbuh menjadi ulama besar dan bahkan menjadi guru bagi Imam Malik, salah satu imam mazhab terkemuka.
Dari kisah-kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang ayah dalam mendidik anak tidak hanya bergantung pada kuantitas waktu kebersamaan, tetapi lebih pada kualitas hubungan yang dibangun.
Keteladanan dalam iman, komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan, serta doa yang tulus menjadi faktor penting dalam pendidikan anak.
Dengan demikian, ayah yang jarang berada di rumah bukan berarti otomatis gagal dalam mendidik anak.
Selama ia tetap menjaga kualitas interaksi, memberikan teladan yang baik, dan memiliki kepedulian spiritual terhadap keluarganya, peran ayah dalam pendidikan anak tetap dapat berjalan secara efektif.[Sdz]





