BERINTERAKSI dengan Al-Qur’an tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang membacanya, melainkan sejauh mana Al-Qur’an hadir dan memberi pengaruh nyata dalam kehidupan.
Kitab suci ini diturunkan bukan hanya untuk dilafalkan dengan suara indah, tetapi untuk dipahami kandungannya, direnungi pesannya, lalu diwujudkan dalam amal dan sikap sehari-hari.
Tidak jarang kita membaca Al-Qur’an secara fisik, namun pikiran dan hati melayang ke berbagai arah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Padahal, Al-Qur’an menuntut kehadiran jiwa yang utuh. Ia ingin disambut dengan kesadaran, didengarkan dengan ketenangan, serta dijadikan sahabat dalam berbagai kondisi, baik saat sendiri maupun bersama orang lain.
Interaksi yang sejati dimulai dari membaca dengan perlahan dan penuh perhatian.
Bukan sekadar mengejar jumlah halaman atau target khatam, tetapi memberi ruang agar setiap ayat meresap.
Al-Qur’an sebagai Sahabat Hidup: Dari Bacaan Menuju Tuntunan
Ketika ayat dibaca dengan kesadaran bahwa Allah sedang berbicara langsung kepada kita, maka pesan Al-Qur’an akan terasa lebih hidup dan personal.
Tahapan berikutnya adalah memahami serta merenungi makna ayat-ayat tersebut.
Ayat tentang kesabaran mengajak kita mengevaluasi diri, sejauh mana kita mampu bertahan dalam ujian.
Ayat tentang rasa syukur mengingatkan apakah kita benar-benar menghargai nikmat yang telah diberikan.
Dalam proses ini, Al-Qur’an menjadi cermin yang jujur, kadang menenangkan hati, kadang menegur dengan lembut.
Baca juga: Gambaran Kelekatan Suami Istri dalam Alquran
Interaksi dengan Al-Qur’an mencapai kesempurnaan ketika nilai-nilainya tercermin dalam perilaku.
Ajaran tentang kejujuran melahirkan sikap amanah, pesan kasih sayang menumbuhkan empati, dan ayat-ayat tentang taubat mengajarkan harapan tanpa keputusasaan.
Al-Qur’an tidak hanya dibutuhkan saat hati lapang, tetapi justru ketika jiwa lelah, kecewa, dan bingung.
Ia hadir menenangkan, menguatkan, dan membimbing tanpa menghakimi.
Bahkan hingga akhir perjalanan hidup, ruh Al-Qur’an akan setia menemani pembacanya, menjadi saksi, pembela, dan pemberi syafaat di hari Kiamat.[Sdz]





