NAMA Rengasdengklok tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Kawasan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ini menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Salah satu tempat yang menjadi saksi sejarah tersebut adalah Rumah Sejarah – Rengasdengklok di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Rengasdengklok Utara.
Rumah ini dikenal sebagai rumah milik Djiauw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa yang juga pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Bangunan tersebut didirikan sekitar tahun 1920 dan menjadi tempat Soekarno dan Mohammad Hatta diamankan oleh kelompok pemuda pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Tips Merawat Charger Ponsel agar Tidak Cepat Rusak
Menyusuri Rumah Sejarah Rengasdengklok, Saksi Bisu Menjelang Proklamasi
Peristiwa Rengasdengklok terjadi karena golongan muda ingin mendorong Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang. Rengasdengklok dipilih karena lokasinya dianggap cukup aman dari pengawasan Jepang. Awalnya Soekarno dan Hatta dibawa ke kawasan markas PETA, tetapi kemudian ditempatkan di rumah Djiauw Kie Siong yang berada di kawasan Bojong.
Menyusuri rumah tempat Soekarno dan Hatta beristirahat
Memasuki Rumah Sejarah Rengasdengklok, suasananya cukup sederhana. Rumah ini masih mempertahankan nuansa bangunan lama dengan material kayu dan bambu. Di dalamnya terdapat sejumlah foto dan keterangan mengenai peristiwa Rengasdengklok.
Salah satu bagian yang menarik adalah kamar yang dipercaya menjadi tempat Soekarno beristirahat. Di bagian lainnya terdapat kamar yang menjadi tempat persinggahan Mohammad Hatta. Rumah ini juga menyimpan berbagai benda dan peninggalan keluarga Djiauw Kie Siong.
Bangunan tersebut sebenarnya pernah berada di tepi Sungai Citarum. Karena kondisi lingkungan dan ancaman erosi, rumah kemudian dipindahkan dari lokasi aslinya. Meski berpindah tempat, bentuk serta nuansa rumah tetap berusaha dipertahankan.
Menariknya, rumah ini hingga kini masih dirawat oleh keluarga keturunan Djiauw Kie Siong. Jadi, ketika berkunjung, wisatawan tidak sedang memasuki museum modern dengan ruang pamer yang luas, melainkan sebuah rumah bersejarah yang masih menyimpan suasana hunian keluarga.
Jam buka Rumah Sejarah Rengasdengklok
Informasi jam operasional terbaru yang tercantum pada data lokasi menunjukkan Rumah Sejarah Rengasdengklok buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB.
Namun, karena tempat ini masih berkaitan dengan rumah keluarga dan pengelolaannya tidak sama seperti museum besar milik pemerintah, ada baiknya pengunjung memastikan kondisi terbaru sebelum berangkat, terutama jika datang dalam rombongan.
Berapa harga tiket masuknya?
Salah satu hal yang membuat tempat ini menarik untuk wisata sejarah adalah tidak adanya tiket masuk khusus yang tercantum dalam sejumlah sumber kunjungan. Pengunjung umumnya cukup mengisi buku tamu dan dapat memberikan sumbangan secara sukarela. Biaya yang mungkin perlu disiapkan adalah parkir kendaraan.
Karena itu, jangan heran jika berkunjung ke Rumah Sejarah Rengasdengklok tidak seperti memasuki objek wisata pada umumnya yang memiliki loket tiket. Sebaiknya tetap membawa uang tunai secukupnya sebagai bentuk penghargaan kepada pengelola dan untuk kebutuhan parkir.
Berkunjung ke Rumah Sejarah Rengasdengklok bukan hanya soal melihat rumah tua. Di tempat sederhana ini, pengunjung bisa membayangkan kembali suasana 16 Agustus 1945, ketika bangsa Indonesia berada di titik yang sangat menentukan. Sehari setelah Soekarno dan Hatta meninggalkan Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan akhirnya dibacakan di Jakarta.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu, menyusuri rumah ini bisa menjadi pengalaman yang berbeda, terutama bagi generasi muda. Sejarah yang selama ini hanya dibaca melalui buku pelajaran terasa lebih dekat ketika melihat langsung tempat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. [DW]




