SEJUMLAH kandungan dalam skincare dan makeup yang perlu diwaspadai karena dapat memicu breakout. Breakout atau munculnya jerawat secara tiba-tiba sering kali dikaitkan dengan hormon atau kebersihan kulit.
Namun, tak banyak yang menyadari bahwa kandungan dalam produk skincare dan makeup juga bisa menjadi pemicunya.
Meski industri kecantikan terus berkembang, beberapa bahan tertentu masih digunakan dalam formulasi makeup dan berpotensi menyumbat pori-pori atau memicu iritasi, terutama pada kulit yang rentan berjerawat.
Baca juga: Retinol Dijadikan Bahan Aktif dalam Skincare untuk Atasi Jerawat
Kandungan Skincare dan Makeup Penyebab Breakout
Berikut tujuh kandungan skincare dan makeup penyebab breakout:
Akrilik
Akrilik sering digunakan dalam riasan untuk membantu bahan menyatu dan menempel lebih lama di kulit. Namun, sifatnya yang oklusif justru bisa menjadi masalah.
Ini seperti menaruh lapisan plastik di kulit. Apa pun yang ada di bawahnya akan terjebak dan menyumbat pori-pori.
Akibatnya, kotoran, minyak, dan bakteri tidak bisa keluar dari pori-pori, sehingga meningkatkan risiko munculnya jerawat.
Alkohol
Alkohol sering digunakan dalam produk skincare dan makeup untuk memberikan efek ringan dan cepat kering. Namun, bagi kulit yang rentan berjerawat, kandungan ini justru bisa memperparah kondisi.
Alkohol menghilangkan terlalu banyak minyak alami, membuat kulit kering, dan merusak lapisan pelindung kulit, yang kemudian mengganggu pH kulit sehat dan memicu jerawat.
Ketika skin barier rusak, kulit menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami peradangan, sehingga jerawat pun lebih mudah muncul.
Mika, silika, dan bedak talk
Bahan ketiga ini sering digunakan untuk memberikan efek glowing atau halus pada kulit. Meski terlihat aman, ternyata ada risiko yang perlu diperhatikan.
Selain itu, bahan-bahan ini juga bisa menyebabkan kulit menjadi kering, yang kemudian memicu produksi minyak berlebih sebagai kompensasi. Kondisi ini dapat memperparah jerawat.
Bismut oksiklorida
Bahan ini sering ditemukan dalam produk bedak atau foundation karena memberikan efek kilau yang menarik.
Namun, efek di sekitarnya tidak bisa diabaikan. Bismuth oxychloride dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif, yang kemudian memicu peradangan dan jerawat. Kulit yang teriritasi cenderung lebih reaktif, sehingga lebih mudah mengalami breakout.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Petrokimia
Petrokimia seperti parafin, mineral oil, dan petrolatum sering digunakan untuk menjaga kelembapan kulit. Namun, efeknya bisa berbeda pada kulit berjerawat.
Bahan ini memang mengunci kelembapan, tapi juga dapat menyumbat pori-pori dan membantu bahan lain masuk lebih dalam ke kulit.
Selain itu, bahan oklusif ini juga dapat memicu panas pada kulit, yang berpotensi memperparah kondisi jerawat, terutama pada kulit yang sensitif terhadap panas.
Silikon
Silikon banyak digunakan dalam primer dan foundation untuk memberikan tekstur halus dan lembut. Namun, sifat oklusifnya bisa menjadi masalah bagi sebagian orang.
Silikon dapat membentuk lapisan di atas kulit yang menyebabkan minyak dan kotoran di dalam pori-pori. Pada kulit yang rentan berjerawat, kondisi ini dapat memicu munculnya jerawat baru.
Meski tidak semua orang mengalami efek negatif, pemilik kulit yang berjerawat sebaiknya lebih memilih dalam memilih produk berbahan silikon.
Pewangi dan pewarna buatan
Pewangi dan pewarna sintetis memang membuat produk lebih menarik, baik dari segi aroma maupun tampilan.
Namun, bahan ini sering menjadi penyebab iritasi. Pewangi dan pewarna dapat menyebabkan iritasi yang mengubah pH kulit dan meningkatkan peradangan.
Hal ini bisa memicu jerawat yang meradang, terangnya Kulit yang sensitif terhadap bahan kimia ini akan lebih mudah mengalami breakout, bahkan hanya dengan paparan dalam jumlah kecil. [Din]



