USTAZ, saya mau bertanya, bagaimana dengan shalat tertunda karena repot urus bayi? Saya punya bayi berumur 2 bulan ini lagi rewel-rewelnya, malam tidur paling 2 jam itu saja enggak nyambung.
Melek tapi rewel, minta digendonglah apalah, enggak jelas maunya. Siang juga begitu. Suami sudah bekerja ke luar Jawa, jadi enggak ada yang bantu-bantu.
Nah, masalahnya, shalat saya jadi tertunda-tunda bahkan kadang sudah masuk shalat waktu berikutnya. Bagaimana solusinya Ustaz? Seperti ini dijamak atau qosor itu boleh tidak?
Ustaz Farid Nu’man Hasan menjelaskan sebagai berikut.
Semoga jadi amal jihad bagi ibunya, tetap semangat.. Dan semoga anaknya sehat dan menjadi anak soleh..
Kesibukan luar biasa dari seorang ibu dalam mengurus bayinya, tanpa pembantu adalah masyaqqat (kesulitan/kepayahan), boleh baginya untuk shalat tidak di awal waktu, bisa di tengahnya, atau akhirnya.
Baca juga:ย Hukum Mengikat Rambut bagi Wanita saat Shalat
Shalat Tertunda karena Repot Urus Bayi
Dalam hadis:
ุฅู ููุตูุงุฉ ุฃููุง ูุขุฎุฑุงุ ูุฅู ุฃูู ููุช ุงูุธูุฑ ุญูู ุชุฒูู ุงูุดู ุณุ ูุฅู ุขุฎุฑ ููุชูุง ุญูู ูุฏุฎู ููุช ุงูุนุตุฑ..
Shalat itu ada awal waktunya dan akhirnya, awal waktu zhuhur adalah saat tergelincir matahari, waktu akhirnya adalah saat masuk waktu ashar.
(HR. Ahmad no. 7172, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Ta’liq Musnad Ahmad, no. 7172)
Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:
ูุฌูุฒ ุชุฃุฎูุฑ ุงูุตูุงุฉ ุฅูู ุขุฎุฑ ููุชูุง ุจูุง ุฎูุงูุ ููุฏ ุฏู ุงููุชุงุจุ ูุงูุณูุฉุ ูุฃููุงู ุฃูู ุงูุนูู ุนูู ุฌูุงุฒ ุชุฃุฎูุฑ ุงูุตูุงุฉ ุฅูู ุขุฎุฑ ููุชูุงุ ููุง ุฃุนูู ุฃุญุฏุงู ูุงู ุจุชุญุฑูู ุฐูู
Dibolehkan menunda shalat sampai akhir waktunya tanpa adanya perselisihan, hal itu berdasarkan Alquran dan As Sunnah.
Perkataan para ulama juga membolehkan menunda sampai akhir waktunya, tidak ada seorang ulama yang mengatakan haram hal itu. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/58)
Bagaimana Jika Sampai Habis Waktunya?
Jika diperkirakan urusan bayi tersebut dapat melewati waktu ke shalat berikutnya, tidak apa-apa niatkan jamak takhir (misal zuhur dan ashar di waktu ashar, atau maghrib dan isya di waktu isya).
Jamak saja, bukan qashar. Sebab, qashar hanya berlaku bagi yang SAFAR.
Dalilnya:
ุนููู ุงุจููู ุนูุจููุงุณู ููุงูู ุฌูู ูุนู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุจููููู ุงูุธููููุฑู ููุงููุนูุตูุฑู ููุงููู ูุบูุฑูุจู ููุงููุนูุดูุงุกู ุจูุงููู ูุฏููููุฉู ููู ุบูููุฑู ุฎููููู ููููุง ู ูุทูุฑู
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: โRasulullah Shallallahu โAlaihi wa Sallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya di Madinah, pada hari saat tidak ketakutan dan tidak hujan.โ (HR. Muslim No. 70)
Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:
ูุฃูุณุน ุงูู ุฐุงูุจ ูู ุงูุฌู ุน ู ุฐูุจ ุฃุญู ุฏ ูุฅูู ุฌูุฒ ุงูุฌู ุน ุฅุฐุง ูุงู ุดุบู ูู ุง ุฑูู ุงููุณุงุฆู ุฐูู ู ุฑููุนุง ุฅูู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฅูู ุฃู ูุงู: ูุฌูุฒ ุงูุฌู ุน ุฃูุถุง ููุทุจุงุฎ ูุงูุฎุจุงุฒ ููุญููู ุง ู ู ู ูุฎุดู ูุณุงุฏ ู ุงูู.
“Mazhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah mazhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An Nasaโi secara marfuโ (sampai) kepada Rasulullah Shallallahu โAlaihi wa Sallam,
sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.โ (Al Fatawa Al Kubra, 5/350)
Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
ููุฐูููุจู ุฌูู ูุงุนูุฉู ู ููู ุงููุฃูุฆูู ููุฉ ุฅูููู ุฌูููุงุฒ ุงููุฌูู ูุน ููู ุงููุญูุถูุฑ ููููุญูุงุฌูุฉู ููู ููู ููุง ููุชููุฎูุฐูู ุนูุงุฏูุฉ ุ ูููููู ููููู ุงูุจูู ุณููุฑูููู ููุฃูุดูููุจ ู ููู ุฃูุตูุญูุงุจ ู ูุงููู ุ ููุญูููุงูู ุงููุฎูุทููุงุจูููู ุนููู ุงูููููููุงู ููุงูุดููุงุดููู ุงููููุจููุฑ ู ููู ุฃูุตูุญูุงุจ ุงูุดููุงููุนููู ุนููู ุฃูุจูู ุฅูุณูุญูุงู ุงููู ูุฑูููุฒูููู ุนููู ุฌูู ูุงุนูุฉ ู ููู ุฃูุตูุญูุงุจ ุงููุญูุฏููุซ ุ ููุงุฎูุชูุงุฑููู ุงูุจูู ุงููู ูููุฐูุฑ ููููุคููููุฏูู ุธูุงููุฑ ููููู ุงูุจูู ุนูุจููุงุณ : ุฃูุฑูุงุฏู ุฃููููุง ููุญูุฑูุฌ ุฃูู ููุชู ุ ููููู ู ููุนููููููู ุจูู ูุฑูุถู ููููุง ุบูููุฑู ููุงูููููู ุฃูุนูููู .
โSekelompok para imam, membolehkan jamak ketika tidak bepergian apabila ia memiliki keperluan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan.” Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah.
Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari mazhab Syafiโi, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadis.
Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa yang dikehendaki dari jamak adalah โagar umatnya keluar dari kesulitan.โ
Karena itu, tidak dijelaskan alasan jamak, apakah karena sakit atau yang lainnya. Wallahu aโlam.โ (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/219). Demikian. Wallahu a’lam.[ind]





