SERATUS titik di Lebanon dibom Israel melalui serangan udara. Sedikitnya, 254 orang dilaporkan tewas dan 1100 lebih orang mengalami luka-luka.
Dasar bangsa kera, Israel melakukan serangan udara besar-besaran di 100 titik di Lebanon. Hanya beberapa jam setelah berlaku gencatan senjata.
Mirisnya, AS justru membela Israel. Menurutnya, perjanjian kesepakatan gencatan senjata tidak berlaku di Lebanon. Hanya di Iran.
Warga Iran Siap Perang Lagi
Baru beberapa jam warga Iran turun ke jalan merayakan kemenangan seusai gencatan senjata diumumkan, mereka kembali menyuarakan siap perang dilanjutkan.
Hal ini setelah ada laporan bahwa Israel melakukan serangan udara ke Lebanon. Israel merasa bahwa perang dengan Iran dan Lebanon belum selesai.
Padahal, Iran sudah tidak lagi melakukan serangan ke infrastruktur AS di Timur Tengah. Tidak ada serangan rudal, tidak pula dengan drone. Sebelumnya, hampir setiap hari, negara-negara teluk melaporkan serangan wilayah mereka oleh Iran, khususnya di fasilitas milik AS.
Dengan adanya serangan besar-besaran Israel ke Lebanon ini, gencatan senjata mengalami titik kritis. Perang sewaktu-waktu bisa pecah kembali.
Yang jelas, setelah serangan Israel ke Lebanon itu, Iran kembali menutup selat Hormuz. Iran juga kembali melakukan serangan rudal ke wilayah Israel, sejak pelanggaran Israel itu.
PBB ‘Bermain’ Ganda
Ada yang menarik di Sidang Dewan Keamanan PBB, kemarin. Sidang meminta agar dikerahkannya pasukan internasional untuk membuka selat Hormuz.
Resolusi ini pun akhirnya diveto oleh Rusia dan Cina. Dengan begitu resolusi untuk mengerahkan pasukan internasional seperti yang diinginkan DK PBB, batal.
Dengan sikap Israel, AS, dan PBB ini, rasanya sulit mempertahankan gencatan senjata yang baru seumuran jagung. Padahal, begitu banyak warga dunia yang tersiksa karena perang yang diakibatkan oleh keras kepala Israel dan AS. [Mh]





