ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Kamis, 24 Oktober 2019 | 25 Safar 1441 H
Login | Register

 


 
 
 
 
SUAMI ISTRI

Ghibah yang Dibolehkan

04 December 2018 07:18:10
#ghibah #yangdibolehkan
pexels.com

ChanelMuslim.com - Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Ketahuilah bahwasanya ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar, yang sesuai syari’at, yang tujuan tersebut tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan ghibah itu.”

Hal-hal yang membolehkan ghibah itu ada enam (sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar), sebagaimana tergabung dalam suatu syair :

“Celaan bukanlah ghibah pada enam kelompok;

Pengadu, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan.

Dan terhadap orang yang menampakkan kefasikan, dan peminta fatwa.

Dan orang yang mencari bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.”

1. Pengaduan

Orang teraniaya dibolehkan mengadu kepada sultan (penguasa) atau hakim dan yang lainnya, yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata: “Si fulan telah menganiaya saya demikian dan demikian”. Firman Allah:

“Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya”. (QS. An-Nisa:148).

Pengecualian yang terdapat dalam ayat ini menunjukkan bolehnya orang yang didzalimi mengghibahi orang yang mendzaliminya. Mengghibahi dengan hal-hal yang menjelaskan kepada manusia tentang kedzaliman yang telah dialaminya dari orang yang mendzaliminya. Bahkan dia boleh mengeraskan suaranya dengan hal itu dan menampakkannya di tempat-tempat berkumpulnya manusia. Sama saja apakah dia nampakkan kepada orang-orang yang diharapkan bantuannya atau dia nampakkan kepada orang-orang yang dia tidak harapkan bantuannya.

2. Minta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku kemaksiatan kepada kebenaran

Seseorang (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran: “Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu.” Tujuannya menjadikannya sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram.

3. Meminta Fatwa.

Misalnya seseorang berkata kepada seorang mufti: “Bapakku telah berbuat dzalim padaku”, atau “Saudaraku, atau suamiku, atau si fulan telah mendzalimiku, apakah hukuman yang dia dapatkan?” atau “Bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman?” dan yang semisalnya. Namun yang lebih baik adalah hendaknya dia berkata (kepada si mufti), “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang atau seorang suami yang telah melakukan demikian?” Maka dengan cara ini tujuan bisa diperoleh tanpa harus menyebutkan orang tertentu, namun menyebutkan orang tertentupun boleh sebagaimana dalam hadits berikut,

Dari ‘Aisyah berkata, “Hindun, istri Abu Sofyan, berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir dan tidak memberi belanja yang cukup untukku dan untuk anak-anakku, kecuali jika saya ambil tanpa pengetahuannya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik” (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit).”(HR. Bukhari dan Muslim)

4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan

Hal ini diantaranya: Jarh wa ta’dil (celaan dan pujian terhadap seseorang) yang telah dilakukan oleh para Ahlul Hadits. Mereka berdalil dengan ijma’ tentang bolehnya, bahkan wajibnya hal ini. Karena para salaf umat ini senantiasa menjarh (mencela) orang-orang yang berhak mendapatkannya, dalam rangka untuk menjaga keutuhan syari’at. Seperti perkataan ahlul hadits: “Si fulan pendusta”, “Si fulan lemah hafalannya”, “Si fulan munkarul hadits”, dan lain-lainnya.

Contoh yang lain yaitu mengghibahi seseorang ketika musyawarah untuk mencari nasehat. Dan tidak mengapa dengan menta’yin (menyebutkan dengan jelas) orang yang dighibahi tersebut. Dalilnya sebagaimana hadits ini,

Fatimah binti Qois berkata, “Saya datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah meminang saya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah maka ia seorang miskin adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya.” (Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat yang lain di Muslim (no 1480) :”Adapun Abul Jahm maka ia tukang pukul para wanita (istri-istrinya).”

5. Ghibah dibolehkan kepada seseorang yang terang-terangan menampakan kefasikan dan kebid’ahannya

Seperti orang yang terang-terangan meminum khamer, mengambil harta manusia dengan dzolim, dan lain sebagainya. Maka boleh menyebutkan kejelekan-kejelekannya.

Aisyah berkata, “Seseorang datang minta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Izinkanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang yang di tengah kaumnya.”

Namun diharamkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan, kecuali ada sebab lain yang membolehkannya.

6. Untuk Pengenalan.

Jika seseorang terkenal dengan suatu gelar seperti si rabun, si pincang atau si buta dan yang selainnya, maka boleh untuk disebutkan. Dan diharamkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.

(MAY)

Sumber: www.almanhaj.or.id

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
ghibah
yangdibolehkan
 
BERITA LAINNYA
 
 
SUAMI ISTRI
16 July 2018 14:52:59

Masih Perlukah Memperjuangkan Kesetaraan Gender?

 
SUAMI ISTRI
27 April 2018 12:25:05

Cara Efektif Menyelesaikan Pertengkaran

 
SUAMI ISTRI
17 October 2018 21:20:54

Sugar Daddy, Pengkhianat Pernikahan

 
SUAMI ISTRI
30 March 2018 12:28:23

Yang, Nge-Date Yuk

 
SUAMI ISTRI
01 July 2019 21:10:50

Pesan Cinta yang Akan Membuat Istri Merasa Spesial

The Power Of Love 2 Hayya
 
 
Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
TERBARU
 
iklan chanel muslim, rate iklan chanelmuslim, website islam iklan
 
Buku Pilu di Palu Mam Fifi
 
TERPOPULER
 
Jual Buku Mencintaimu Dengan Cinta Yang Lebih Tertata Penulis Fifi P.Jubilea
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga
JANGKAU LEBIH LUAS KONSUMEN ANDA,
beriklan di ChanelMuslim.com
Hotline : 0813.1956.2284