DALAM beberapa hubungan, istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku tertentu pada pasangan.
Namun penting untuk dipahami bahwa NPD adalah kondisi klinis yang hanya dapat didiagnosis oleh profesional kesehatan mental, bukan melalui pengamatan sehari-hari saja.
Salah satu pola yang sering dikaitkan dengan ciri narsistik adalah kebutuhan berlebihan untuk dikagumi.
Seseorang mungkin tampak sangat membutuhkan pujian, ingin selalu dianggap paling benar, paling hebat, atau paling berjasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam situasi tertentu, kebutuhan ini bisa membuat mereka kurang responsif terhadap kebutuhan emosional pasangan.
Dikutip dari Fatherman, bahwa pola lain yang kerap muncul adalah gaslighting, yaitu ketika seseorang membuat pasangannya meragukan ingatan atau persepsinya sendiri.
Ungkapan seperti “kamu terlalu sensitif” atau “kamu salah ingat” dapat membuat korban hubungan merasa bingung terhadap realitasnya sendiri jika terjadi berulang dan sistematis.
Kesulitan untuk mengakui kesalahan juga sering disebut sebagai karakteristik yang mungkin muncul.
Alih-alih meminta maaf dengan tulus, seseorang bisa mengalihkan kesalahan kepada pasangan, misalnya dengan menyatakan bahwa perilaku mereka disebabkan oleh tindakan pihak lain.
Selain itu, terdapat kecenderungan untuk mengontrol aspek kehidupan pasangan, seperti cara berpakaian, pergaulan, hingga keputusan pribadi, dengan dalih “demi kebaikan”.
Dalam hubungan yang tidak sehat, kontrol ini dapat menjadi bentuk dominasi emosional.
Baca juga: Role Model yang Layak untuk Anak
Kurangnya empati juga sering dilaporkan, yaitu kesulitan untuk benar-benar hadir secara emosional ketika pasangan sedang mengalami kesulitan, meskipun secara verbal tetap menunjukkan perhatian.
Meskipun pola-pola ini dapat menjadi tanda hubungan yang tidak sehat, penting untuk tidak langsung melabeli seseorang dengan NPD tanpa evaluasi profesional.
Fokus utama sebaiknya adalah pada dampak perilaku tersebut terhadap kesehatan mental dan keselamatan emosional dalam hubungan.[Sdz]





